RADARCIREBON.COM – Perkembangan teknologi digital yang masif menuntut guru Bimbingan Konseling (BK) di Kota Cirebon untuk bergerak cepat dan adaptif.
Perubahan perilaku siswa akibat dunia digital menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dihadapi dengan pendekatan lama.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar Layanan Bimbingan Konseling yang diselenggarakan oleh PGRI Kota Cirebon bekerja sama dengan Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jakarta, bertempat di SMPN 1 Kota Cirebon, Sabtu (7/2/2026).
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menegaskan bahwa kompleksitas permasalahan peserta didik saat ini jauh lebih berat dibandingkan satu dekade sebelumnya.
BACA JUGA:BPJS PBI Dicoret Kemensos? Pemprov Jawa Barat Pastikan Pasien Kronis Tetap Terlindung
BACA JUGA:Program Unggulan Lomba Hafidz Cilik TK Baitul Makmur Dorong Generasi Pecinta Quran
Menurutnya, guru BK, guru kelas, hingga pendidik di jenjang PAUD kini menghadapi realitas baru yang dipengaruhi teknologi digital.
Ia menyampaikan bahwa era digital tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga membentuk pola pikir, emosi, serta interaksi sosial siswa. Akses informasi yang tidak terbatas membawa peluang sekaligus risiko.
“Teknologi adalah pedang bermata dua. Di satu sisi membuka wawasan, namun di sisi lain memunculkan ancaman serius seperti cyber bullying, kecanduan gawai, dan paparan konten negatif yang berdampak langsung pada kesehatan mental siswa,” jelasnya.
Tema seminar “Transformasi Layanan BK di Era Digital: Adaptif, Inovatif, dan Humanis” dinilai sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini.
BACA JUGA:Infrastruktur Jalan Jadi Sorotan, Bupati Cirebon dan Gubernur Jabar Bahas Langkah Konkret
BACA JUGA:Driver Ojol Dibacok di Dekat Stasiun, Pelaku Ditangkap Polisi Kurang dari 3 Jam
Wakil Wali Kota menekankan pentingnya literasi digital bagi guru agar mampu menjangkau siswa di ruang digital tanpa kehilangan nilai empati.
Menurutnya, pendekatan komunikasi yang terlalu kaku dan konvensional berisiko membuat pesan konseling tidak tersampaikan dengan baik.
Meski memanfaatkan teknologi, sentuhan kemanusiaan tetap harus menjadi fondasi utama.