“Teknologi hanyalah sarana. Namun empati, kemampuan mendengar, dan memahami perasaan siswa adalah ruh dari layanan konseling,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mendorong agar layanan BK tidak lagi bersifat pasif atau sekadar menunggu siswa datang ke ruang konseling.
Pemanfaatan platform konseling daring, analisis data digital, serta sistem deteksi dini dianggap penting untuk memetakan potensi dan risiko yang dihadapi siswa.
Pemerintah Kota Cirebon juga memberikan apresiasi atas kolaborasi antara PGRI Kota Cirebon dan UNINDRA Jakarta.
Menurutnya, investasi terbaik dalam pendidikan terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, bukan hanya pembangunan fisik sekolah.
Sementara itu, Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, melaporkan bahwa seminar ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai jenjang pendidikan.
Antusiasme tinggi tersebut mencerminkan kesadaran guru akan pentingnya pembaruan kompetensi di tengah disrupsi teknologi.
“Kehadiran ratusan peserta membuktikan bahwa guru-guru di Cirebon memiliki komitmen kuat untuk terus belajar dan beradaptasi,” ujarnya.
Seminar ini diharapkan menghasilkan langkah konkret yang dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing, demi melindungi dan membimbing generasi muda agar tetap tangguh di era digital yang terus berubah.