Efek lain dari pola makan tinggi lemak adalah meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Penyakit metabolik ini bukan hanya berdampak pada kadar gula darah, tetapi juga kesehatan otak.
Diabetes tipe 2 diketahui memiliki kaitan erat dengan Penyakit Alzheimer. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan jaringan saraf, sehingga mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Artinya, menjaga pola makan bukan hanya soal berat badan, tetapi juga perlindungan jangka panjang terhadap otak.
6. Mengubah Struktur Pembuluh Darah Otak
Obesitas dan diet tinggi lemak berkorelasi dengan perubahan pada pembuluh darah otak. Kondisi ini memengaruhi suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf.
Gangguan pada pembuluh darah dapat menyebabkan disfungsi sel endotel otak, yang berdampak pada munculnya gejala seperti sakit kepala berat, kebingungan, disorientasi, hingga gangguan memori.
Jika dibiarkan, perubahan ini berpotensi memicu gangguan neurologis yang lebih serius.
Pentingnya Nutrisi Berkualitas untuk Otak
Untuk menjaga fungsi otak tetap prima, tubuh memerlukan asupan nutrisi berkualitas tinggi. Konsumsi makanan kaya antioksidan, asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral terbukti membantu menjaga kesehatan sel saraf.
Mengurangi makanan berlemak jenuh dan lemak trans menjadi langkah awal yang penting.
Dengan pola makan seimbang, kemampuan kognitif dapat tetap tajam, produktivitas meningkat, dan kualitas hidup lebih terjaga.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan kita. Pilihan makanan hari ini akan menentukan kesehatan otak di masa depan.