Keterlibatan banyak pihak ini, menurut Abu Rokhmad, menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat legitimasi keagamaan hasil sidang isbat.
“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya.
Sementara, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat menambahkan, kesiapan teknis terus dimatangkan, termasuk koordinasi pemantauan rukyatulhilal di berbagai titik di Indonesia.
Ia memastikan dukungan sarana dan prasarana sidang, sistem pelaporan rukyat, serta koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal telah disiapkan.
Hal ini bertujuan agar proses sidang berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat.
BACA JUGA:Ini Dia 96 Lokasi Pemantauan Hilal Sidang Isbat Awal Puasa 2026, Cek Jadwal dan Daerahmu
“Harapannya, proses sidang dapat berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat,” jelasnya.
Arsad juga mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah setelah seluruh rangkaian sidang selesai, guna menghindari informasi yang belum terverifikasi.
Rangkaian sidang isbat akan diawali dengan seminar posisi hilal. Dalam sesi ini, para ahli akan memaparkan data astronomi terkait kemungkinan terlihatnya hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Selanjutnya, dilakukan verifikasi laporan rukyatulhilal dari berbagai daerah. Setelah itu, sidang isbat digelar secara tertutup untuk mengambil keputusan.
Hasilnya kemudian diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama kepada publik.
Sebelumnya, Kemenag telah menggelar Rapat Persiapan Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H di Gedung Kemenag Thamrin pada 27 Februari 2026.
Rapat tersebut dihadiri jajaran pejabat Ditjen Bimas Islam, termasuk Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah Amir serta Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Ismail Fahmi.
Dengan persiapan yang matang dan melibatkan berbagai pihak, pemerintah berharap penetapan 1 Syawal 1447 H dapat memberikan kepastian bagi umat Islam di Indonesia dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri 2026 secara serentak dan khidmat. (*)