BACA JUGA:Wakil Walikota: Cap Go Meh Momentum Mempererat Kebersamaan
BACA JUGA:Perbaikan Jembatan Lebakngok Cirebon Dikebut, Ini Target dari Wali Kota Edo
Tak berhenti di situ, Mojtaba kemudian memperdalam ilmu agama di Qom, pusat pendidikan Islam Syiah terkemuka di Iran. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif ternama.
Pada akhir 1990-an, ia mulai aktif mengajar di seminari dan memperluas jaringan pengaruhnya di kalangan ulama.
Perannya di Kantor Pemimpin Tertinggi Iran semakin mengukuhkan posisinya sebagai figur penting dalam struktur kekuasaan, meski tetap bergerak di balik layar.
Ia juga dikenal kerap menjadi penghubung strategis antara ayahnya dengan tokoh agama, pejabat pemerintahan, hingga elite militer.
Penunjukan di Tengah Situasi Genting
Keputusan Majelis Pakar Iran untuk mengangkat Mojtaba sebagai pemimpin baru terjadi dalam situasi keamanan yang sangat sensitif.
Sidang berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional serta tekanan internasional terhadap Teheran.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa proses penunjukan tersebut tak lepas dari pengaruh kuat IRGC.
Di saat bersamaan, beredar kabar mengenai serangan yang menyasar beberapa wilayah strategis di Teheran dan Qom, termasuk area yang berkaitan dengan Majelis Pakar.
Penetapan Mojtaba Khamenei sebagai Pimpinan Tertinggi Iran menandai babak baru dalam politik negara tersebut.
Dunia kini menyoroti bagaimana arah kebijakan Iran ke depan berada di tangan sosok yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor kunci di balik layar.
Dengan latar belakang militer, pendidikan agama yang kuat, serta jejaring elite yang luas, Mojtaba menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas dalam negeri sekaligus merespons dinamika geopolitik global.