Penetapan ini mencakup momen penting seperti awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
BACA JUGA:Pria Diduga ODGJ Ngamuk di Tol Palikanci Cirebon, Polisi Bergerak Cepat
BACA JUGA:Mengakhiri Perang Teluk, Mafuz Sidik: Trump Hadapi Empat Tekanan Berat
Tujuan utama sidang isbat pemerintah adalah memberikan kepastian kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat.
Dengan adanya keputusan resmi, diharapkan tidak terjadi perbedaan signifikan dalam pelaksanaan hari raya di tengah masyarakat.
Dalam praktiknya, sidang isbat menggabungkan dua metode utama, yaitu hisab dan rukyat.
Metode Hisab dan Rukyat Jadi Penentu
Metode hisab merupakan pendekatan berbasis perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis.
Metode ini tidak memerlukan observasi langsung, melainkan menggunakan data pergerakan benda langit.
Sementara itu, metode rukyat dilakukan dengan cara mengamati langsung hilal atau bulan sabit pertama setelah matahari terbenam.
Proses rukyatul hilal ini dilakukan oleh para ahli di berbagai titik strategis di seluruh Indonesia.
Kombinasi kedua metode ini menjadi dasar kuat dalam sidang isbat Kemenag.
Hasil rukyat akan dikonfirmasi dengan data hisab, sehingga keputusan yang diambil memiliki landasan ilmiah sekaligus keagamaan.
Prediksi Lebaran 2026 Masih Menunggu Keputusan Resmi
Meski kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama memprediksi Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Hal ini penting karena hasil rukyatul hilal bisa saja berbeda dengan perhitungan awal.