CIREBON, RADARCIREBON.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali menjadi sorotan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa lonjakan harga BBM seperti Pertamax Turbo merupakan hal yang wajar karena mengikuti mekanisme pasar.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri kegiatan Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Sabtu 18 April 2026.
BACA JUGA:Ratusan Kapal Nelayan Menumpuk di Pelabuhan Kejawanan Cirebon, Krisis BBM Lumpuhkan Aktivitas Melaut
Ia menjelaskan bahwa pemerintah hanya mengatur harga BBM bersubsidi, sementara BBM nonsubsidi sepenuhnya mengikuti dinamika harga global.
“Untuk BBM nonsubsidi, termasuk yang digunakan kalangan industri dan masyarakat mampu, harga disesuaikan dengan mekanisme pasar,” ujarnya.
Seperti diketahui, harga sejumlah BBM nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan. Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter.
Sementara itu, Dexlite melonjak dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex meningkat dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM tahun 2022.
BACA JUGA:Kebakaran Rumah di Indramayu Jumat Pagi, Api Dipicu LPG dan BBM di Warung
Dalam regulasi tersebut, BBM dengan nilai oktan tinggi seperti RON 98 atau Pertamax Turbo tidak termasuk dalam kategori BBM bersubsidi.
Menurutnya, BBM jenis ini umumnya digunakan oleh konsumen dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi, sehingga wajar jika harganya mengikuti fluktuasi pasar internasional.
Hal serupa juga berlaku untuk BBM jenis solar dengan cetane number (CN) 51, yang masuk dalam kategori nonsubsidi.
Produk ini lebih banyak digunakan oleh sektor industri dan pengguna dengan kebutuhan khusus.
Selain membahas harga BBM, Bahlil juga menyinggung potensi eksplorasi minyak dan gas (migas) di Indonesia.