HONGKONG - Harapan adanya kesepakatan antara pemerintah Hongkong dan demonstran pupus sudah. Pasalnya, rencana negosiasi antara kedua pihak yang dijadwalkan berlangsung kemarin (10/10) gagal. Pihak pemerintah mencabut keputusannya untuk berbicara dengan para demonstran. Mereka menuduh para pemimpin mahasiswa yang berunjuk rasa telah berusaha memperluas aksinya. Keputusan itu tentu saja membuat para aktivis dari berbagai lembaga yang ikut dalam aksi menjadi berang. Tudingan tersebut dinilai mengada-ada. Beberapa hari belakangan ini kondisi di jalanan Hongkong justru lebih tenang. Hanya ratusan orang yang turun ke jalan, tidak mencapai ribuan seperti beberapa waktu sebelumnya. Tak terima, mereka berencana merealisasikan tudingan tersebut. Kemarin, para pemimpin aksi massa itu meminta pendukungnya untuk membawa tenda dan kembali turun ke jalan. Mereka berencana untuk menduduki lagi pusat-pusat kota dalam waktu yang lama. “Ayo datang dan duduki jalanan di luar pusat-pusat area publik. Datang dan bawa tendamu untuk menunjukkan kegigihan kita dalam aksi pendudukan jangka panjang. Kami sekarang berencana menyiapkan langkah yang lebih jauh untuk memperluas aksi jika pemerintah tetap menolak bertemu,” ujar pemimpin mahasiswa Joshua Wong di depan pusat pemerintahan kemarin. Analis politik dari Hong Kong Institute of Education Sunny Lo menegaskan, jika aksi terus berlangsung, bisa jadi ketegangan antara kedua pihak akan meningkat. “Bila gerakan Occupy Central turun ke jalan beberapa minggu lagi, saya takut tindakan dari polisi tidak akan terelakkan. Ini hanya masalah waktu,” ujarnya. Di sisi lain, dukungan terhadap para pendemo terus mengalir. Salah satunya dari Presiden Taiwan Ma Ying-jeou. Kemarin, Ma meminta Beijing memenuhi janji kepada warga Hongkong seperti saat diserahkan oleh Inggris Raya pada 1997. Yaitu, menjamin kebebasan sipil warga Hongkong. Dia juga mendesak China untuk menjadi negara yang demokratis. “Saat ini 1,3 juta penduduk di China Daratan rata-rata telah kaya. Mereka tentu saja berharap menikmati demokrasi dan aturan hukum yang lebih besar. Keinginan seperti itu bukanlah monopoli dari negara-negara Barat, tapi ini adalah hak setiap manusia,” ujar Ma. Dukungan lainnya ditunjukkan kelompok hacker Hongkong Anonymous. Mereka kemarin mengancam untuk mematikan situs-situs milik pemerintah China Daratan dan Hongkong. Mereka siap menyerang situs-situs pemerintah melalui distributed denial of service (DDoS). Itu akan membuat traffic jaringan internet menjadi penuh sehingga sulit untuk diakses. (reuters/afp)
Gagal Berunding, Prodemokrasi Lanjutkan Aksi Demo
Sabtu 11-10-2014,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 18-03-2026,14:41 WIB
Pemudik Jadi Sasaran Debt Collector, Polisi Bertindak Cepat di Cirebon: Aksi Perampasan Digagalkan
Selasa 17-03-2026,20:12 WIB
Hingga Petang Ini, Arus One Way Tol Cipali Meningkat, 56 Ribu Kendaraan Melintas dari GT Cikopo
Rabu 18-03-2026,05:02 WIB
Siap-siap! One Way Nasional Arus Mudik Dimulai Pukul 12.00 WIB
Selasa 17-03-2026,21:05 WIB
KAI Daop 3 Cirebon Petakan 9 Titik Rawan Banjir Jelang Mudik Lebaran 2026
Selasa 17-03-2026,20:01 WIB
Cegah KKN Program MBG, BGN Kerja Sama dengan Kejagung Awasi Anggaran
Terkini
Rabu 18-03-2026,19:01 WIB
Aksi Humanis Taruna Akpol: Edukasi Pengendara dan Bagi Takjil Gratis
Rabu 18-03-2026,18:32 WIB
Putusan Final BAKI: Gugatan Sutardi Ditolak, KONI Kabupaten Cirebon Sah di Tangan Jigus
Rabu 18-03-2026,18:10 WIB
Arus Mudik Cipali Melonjak, Hingga Sore Ini 92 Ribu Kendaraan Melintas Arah Cirebon
Rabu 18-03-2026,18:05 WIB
Rekomendasi 10 HP Infinix Terbaru Maret 2026, Dari Entry Level hingga Flagship Killer
Rabu 18-03-2026,17:13 WIB