Oleh : Umar Alwi Muhammad*
RADARCIREBON.COM - Tetralogi Provinsi Pasundan adalah empat seri esai yang ditulis Fathan Mubarak dan dimuat berkala di HU Radar Cirebon dan Radarcirebon.com.
Tetralogi ini membaca Cirebon melalui sejarah, kebudayaan, identitas, ruang, ingatan, dan politik kewilayahan.
Keempat bagian tersebut bergerak dalam satu jalur pemikiran yang melihat Cirebon sebagai hasil perjumpaan panjang berbagai unsur sejarah dan kebudayaan.
Bagian IV kemudian membawa persoalan itu ke wilayah ketatanegaraan dengan membicarakan kemungkinan Daerah Istimewa Cirebon tanpa harus membentuk provinsi baru.
BACA JUGA:Provinsi Pasundan Bagian I
BACA JUGA:Provinsi Pasundan - Bagian II
Tetralogi tersebut kemudian ditanggapi sebuah akun atas nama Alam Darussalam melalui tulisan yang diunggah di halaman Instagram pribadinya. Instagram tentu saja dapat menjadi medium publikasi.
Namun ketika sebuah bantahan ditempatkan sepenuhnya di ruang pribadi, pengkritik seperti sedang menyiapkan mimbar sendiri, panggung sendiri, berbicara sendiri, juga audiens yang berada dalam frekuensi sendiri. Setelah itu pengkritik pergi.
Untuk sebuah kritik wacana, kenyamanan semacam ini terasa seperti kepengecutan intelektual karena tidak membuka diri untuk diuji.
Tapi saya dapat memahami bahwa memang tidak semua orang punya keberanian untuk diuji. Di sini saya akan menujukkan sebagian analisa terhadap bantahan yang ditulis Alam tersebut.
BACA JUGA:Provinsi Pasundan - Bagian III
BACA JUGA:Provinsi Pasundan - Bagian IV
Saya mulai dari persoalan paling elementer dari sebuah kajian, yaitu ketepatan membaca objek yang sedang dibicarakan.
Dalam kerja intelektual, ketepatan objek merupakan prasyarat sebelum seseorang masuk lebih jauh ke dalam penafsiran, kritik, atau penilaian.