Sebuah istilah dapat memiliki sejarah penggunaan yang panjang dan merujuk pada konteks yang berbeda.
Karena itu, mengenali konteks, waktu, dan referen sebuah istilah merupakan pekerjaan dasar sebelum menyusun bantahan terhadap suatu gagasan.
BACA JUGA:Budayawan Indramayu: Ganti Nama Jawa Barat Berpotensi Timbulkan Perpecahan
BACA JUGA:Ganti Nama Jawa Barat Jadi Provinsi Sunda, Benarkah Solusi Perkuat Identitas Budaya?
Dalam tetralogi, Fathan menyusun argumen salah satunya dari sebuah naskah dari korpus Wangsakerta sebagai hasil Gotrasawala.
Di bagian ini memang ada polemik. Terutama menyangkut status, autentisitas, dan kedudukan historiografinya.
Tapi sudah jelas bahwa Gotrasawala yang dimaksud Fathan adalah satu peristiwa pada paruh kedua abad tujuh belas yang melahirkan korpus Wangsakerta. Clear.
Sayangnya Alam tidak tahu. Ia pun kemudian dengan menggebu-gebu justru mencibir kegiatan Gotrasawala yang pernah diselenggarakan Pemprov Jabar. Berikut dengan berbagai dakwaan terhadap tandingannya, Gotroksawala.
Kesalahan tersebut bukan perbedaan interpretasi. Ini persoalan identifikasi objek. Orang dapat berbeda pendapat mengenai makna sebuah peristiwa setelah memahami peristiwanya, tetapi sulit berdebat secara serius jika sejak awal salah mengenali benda yang sedang diperdebatkan.
Sejarah memiliki kebiasaan yang menyebalkan bagi orang yang terburu-buru. Sejarah meminta kronologi, konteks, sumber, dan ketelitian. Mengganti objek pembicaraan lalu menyerang objek pengganti adalah cara yang sangat efisien untuk memenangkan perdebatan yang sebenarnya tidak pernah dimulai.
Kesalahan tersebut menjadi semakin menghibur karena kritik Alam ingin tampil sebagai koreksi terhadap cara berpikir kebudayaan.
Ia hendak mengajari pembaca tentang apa yang semestinya dibicarakan, tetapi justru gagal membaca perkara yang sedang dibicarakan.
BACA JUGA:Kakek 70 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Lapangan Kebumen Cirebon
BACA JUGA:Ritual Memayu Digelar Keraton Kanoman jelang Muludan Diwakili Pangeran Patih Raja Qodiran
Semacam guru yang masuk kelas dengan suara lantang, menulis jawaban di papan tulis, lalu baru belakangan sadar bahwa soal ujiannya berbeda. Yang kurang dalam situasi semacam itu bukan keberanian, tetapi kemampuan membaca soal.
Kekeliruan serupa tampak dalam cara Alam membaca penggunaan Salman Rushdie. Dalam tetralogi, Rushdie dipakai untuk membicarakan identitas dan pengalaman kebudayaan.