Aktivisme Kolam Lele dan Revolusi Ayam Petelur

Selasa 11-08-2026,18:07 WIB
Editor : Tatang Rusmanta

Karena itu, yang layak dipertanyakan dari Alam bukan apakah dia memiliki hak berbicara tentang aktivisme. Yang dapat diuji adalah kualitas posisi yang ditampilkannya.

Ketika seseorang mengambil posisi sebagai suara yang paling idealis, paling kritis, paling pintar, dan paling benar, maka standar yang harus dipenuhi juga menjadi lebih tinggi.

Citra intelektual tidak boleh meminta kekebalan dari pemeriksaan.

Gelar S2 pun tidak dapat dijadikan tameng. Pendidikan tinggi menunjukkan jenjang pendidikan yang pernah ditempuh seseorang. Dan bukan sertifikat yang menjamin setiap kalimat setelahnya menjadi benar.

Justru semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin masuk akal jika pembaca mengharapkan ketelitian yang lebih baik dalam menggunakan sejarah, teori, dan referensi.

Masalahnya bukan Alam lulusan S2 atau bukan. Masalahnya adalah terdapat kesenjangan yang menggelikan antara kredensial akademik dan cara sebuah kritik membaca objek.

Gelar dapat dicetak dengan tinta. Ketelitian dan keuletan tidak bisa.

Alam juga dikenal sebagai pengusaha ternak lele, nila, dan ayam petelur. Pekerjaan tersebut sesungguhnya sangat konkret.

Lele perlu dipelihara, nila perlu dirawat, ayam perlu diberi makan, dan hasilnya dapat dihitung. Ada kerja yang dilakukan dan ada hasil yang dapat diperiksa.

Karena itu, dunia ternak justru menyediakan metafora yang bagus untuk membaca kritiknya. Kolam yang terlalu banyak diberi pakan akan keruh. Kritik juga demikian.

Terlalu banyak slogan, terlalu banyak pose idealisme, terlalu banyak daftar persoalan dunia, tetapi terlalu sedikit pembacaan terhadap teks yang sedang dikritik, akhirnya menghasilkan air argumentasi yang keruh. Lele mungkin masih bisa hidup di dalamnya. Argumen yang baik belum tentu.

Menjadi pengusaha ikan dan ayam jauh lebih patut dihargai daripada pose intelektual yang tidak menghasilkan apa-apa.

Yang menjadi lucu adalah ketika kerja yang konkret tersebut berbanding terbalik dengan kritik yang tidak cukup konkret dalam menunjukkan kesalahan lawan.

Lele mempunyai kolam. Nila mempunyai kolam. Ayam mempunyai kandang. Kritik Alam tampaknya hanya mempunyai Instagram.

Di sinilah persoalan penggunaan Instagram tadi kembali menjadi penting. Kritik yang ditempatkan di halaman pribadi memberikan kenyamanan yang tidak sedikit.

Alam dapat menyusun tuduhan, mengatur cara penyajiannya, dan menentukan siapa yang membaca. Tetapi ruang publik yang sehat membutuhkan kemungkinan bagi argumen untuk berhadapan dengan argumen secara terbuka.

Kategori :