Nasaruddin Umar dan Amanah yang Lebih Besar

Jumat 28-08-2026,08:55 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Tatang Rusmanta

Bisa jadi, justru di situlah letak pilihan yang paling bijaksana.

Tidak semua pemimpin harus berada di puncak organisasi untuk memberikan pengaruh besar. Tidak semua ulama harus memimpin satu kelompok untuk menjadi milik semua kelompok.

Indonesia membutuhkan tokoh yang mampu berdiri di atas sekat-sekat.

Nasaruddin Umar, dengan pengalaman, kapasitas intelektual, kedalaman spiritual, serta penerimaannya di berbagai lapisan masyarakat, memiliki potensi besar untuk memainkan peran tersebut.

PBNU tentu membutuhkan pemimpin terbaiknya. Tetapi negara juga membutuhkan figur yang mampu menjaga keseimbangan di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Pilihan Nasaruddin Umar untuk tetap menjalankan amanah negara dapat dipandang sebagai keputusan untuk memperluas medan pengabdian.

Ia mungkin tidak akan menakhodai PBNU hingga 2031. Tetapi itu tidak berarti pengaruh dan kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama, umat Islam, dan bangsa Indonesia menjadi lebih kecil.

Justru sebaliknya.

Dengan tetap berada di ruang yang lebih luas, Nasaruddin Umar dapat terus menjalankan peran yang selama ini melekat kuat pada dirinya: menjadi ulama yang meneduhkan, pemimpin yang mempertemukan, dan cendekiawan yang melihat jauh ke depan.

Kadang, pengabdian terbesar memang bukan dengan memilih satu panggung.

Melainkan dengan tetap berdiri di tengah semua panggung.

Dan mungkin, di situlah posisi Nasaruddin Umar hari ini: bukan untuk mengerdilkan dirinya dalam satu kontestasi, tetapi untuk menjaga ruang yang lebih luas bagi persatuan, moderasi, kemajuan umat, dan masa depan Indonesia. (Uslimin Usle)

Kategori :