IPB Cirebon Perkuat Kurikulum PGSD Lewat Benchmarking ke UPGRIS

Jumat 28-08-2026,11:00 WIB
Reporter : Khoirul Anwarudin
Editor : Leni Indarti Hasyim

SEMARANG, RADARCIREBON.COM–Institut Prima Bangsa (IPB) Cirebon terus mendorong penguatan kualitas pendidikan calon guru sekolah dasar melalui pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan pendidikan.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan benchmarking pengembangan kurikulum Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ke Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Kamis (27/8). Rombongan IPB Cirebon berjumlah tujuh orang yang terdiri dari dosen Prodi PGSD.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi IPB Cirebon untuk mempelajari praktik baik UPGRIS dalam mengembangkan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pendidikan dasar, kebijakan pendidikan, dan transformasi pembelajaran di era digital.

Kaprodi PGSD IPB Cirebon, Ratri Nuryani Qudwatullathifah, M.Pd., mengatakan benchmarking tersebut tidak sekadar menjadi ajang pertukaran informasi, tetapi bagian dari upaya memperkuat kurikulum PGSD agar semakin relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia pendidikan.

BACA JUGA:3 Skema Mematikan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup, Bung Ropan Soroti Fleksibilitas John Herdman

“Tujuan kami melaksanakan benchmarking ke Universitas PGRI Semarang pada Prodi PGSD yaitu untuk memperoleh praktik baik mengenai pengembangan kurikulum yang berbasis Outcome Based Education,” ujar Ratri.

Menurutnya, salah satu fokus yang dikaji adalah penyelarasan profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), bahan kajian, hingga struktur mata kuliah dalam kurikulum PGSD.

“Kami juga bertujuan mendukung penguatan kurikulum Prodi PGSD yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa kami di Institut Prima Bangsa,” katanya.

Menurut Ratri, pengembangan kurikulum tersebut penting di tengah perubahan pembelajaran di sekolah dasar yang semakin dinamis. Calon guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi perkembangan teknologi, perubahan kebijakan pendidikan, serta kebutuhan pembelajaran yang lebih kontekstual.

BACA JUGA:Gacor di Debut Millwall, Elkan Baggott Langsung Bikin Persaingan Lini Belakang Garuda Memanas

“Karena itu, kurikulum harus terus disesuaikan agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pendidikan dasar saat ini,” tuturnya.

Penguatan kurikulum tersebut juga diarahkan agar selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisintek), khususnya dalam mendorong perguruan tinggi menghasilkan program yang memberikan dampak nyata.

“Kami ingin proses pengembangan kurikulum ini tidak hanya berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar berdampak terhadap kualitas pembelajaran dan kompetensi lulusan,” ujar Ratri.

Selain benchmarking, kegiatan di UPGRIS juga diisi dengan penandatanganan kerja sama antara kedua perguruan tinggi. Kerja sama tersebut dituangkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor IPB Cirebon dan Rektor UPGRIS.

BACA JUGA:Yamaha Gear Ultima Ramaikan Karnaval Kemerdekaan di Sukabumi, Hadirkan Motor Irit 20 Jutaan

Kerja sama kemudian diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama kedua perguruan tinggi serta Implementation Agreement (IA) yang ditandatangani Kaprodi PGSD IPB Cirebon bersama Kaprodi PGSD UPGRIS.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap ada tindak lanjut konkret dalam pengembangan akademik, baik untuk dosen maupun mahasiswa,” pungkas Ratri. (awr)

Kategori :