“Inilah yg membedakan Galodo dari sekadar banjir air biasa: alirannya dapat berubah menjadi campuran air dan material padat dengan daya rusak jauh lebih besar,” tandasnya.
Bila sebelumnya sudah terdapat endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu atau material longsoran di dasar dan tebing sungai, kenaikan debit mendadak dapat memobilisasi kembali material tersebut, menambah volume dan energi aliran Galodo.
Kondisi tutupan vegetasi juga memengaruhi kemampuan DAS menahan hujan.
Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat menurunkan intersepsi dan infiltrasi serta meningkatkan erosi dan limpasan.
Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan, sehingga jangan langsung disebut sbg penyebab tanpa analisis.
Selain itu, air dari banyak lereng dan anak sungai akhirnya berkumpul pada lembah dan alur sungai utama.
Pada DAS yang curam, waktu konsentrasinya pendek sehingga debit dapat naik sangat cepat.
“Jika bersamaan dengan suplai material longsoran dan sedimen, terbentuklah aliran deras bermuatan lumpur, batu dan kayu, Galodo,” urainya.
Intinya, tambah dia, hujan lebat adalah pemicu meteorologi.
Sementara lereng curam, tanah jenuh, longsoran, ketersediaan material lepas dan karakter DAS yang cepat mengonsentrasikan limpasan, menentukan seberapa besar Galodo yang terbentuk.
“Untuk Solok, faktor tutupan lahan dan besarnya kontribusi masing-masing proses masih perlu diverifikasi dengan survei DAS dan data lapangan,” begitu dia mengakhiri postingannya.