“Nah, sesar Lembang cukup dekat pemukiman padat. Tanah sekitar juga dari endapan aluvial tebal. Itu yang mengkhawatirkan dari Sesar Lembang,” jelas Ahmad Arif.
Karenanya, bagi yang tinggal di Bandung, wajib tahu soal bahaya Sesar Lembang tersebut. Terutama soal anatomi bencana Cekungan Bandung ini.
Bahkan ada yang mengatakan jika Sesar Bandung jebol, bakal terjadi tragedi “Palu Jilid 2” akibat amukan danau purba ini.
Ada analisa yang membuat merinding. Tapi secara keilmuan geologi dan geoteknik merupakan ancaman nyata yang tidak perlu menunggu jutaan tahun lagi.
BACA JUGA:Menyelami Pesona Lembang: Rekomendasi Wisata Terbaik untuk Liburan Tak Terlupakan
Memang, banyak warga Bandung Raya yang merasa tenang karena menganggap Sesar Lembang sekadar ancaman. Bahkan jika terjadi kebangkitan Danau Purba ini, urusannya jutaan tahun lagi.
Padahal, ada riset Geologi Kebencanaan BRIN dan BMKG. Riset ini menunjukkan jika periode ulang Sesar Lembang justru berada di rentang 500–700 tahunan.
Sementara saat ini sudah berada di ujung siklus pelepasan energinya. Tanpa mendahului kehendak Tuhan, berarti ancaman tersebut bisa jadi kian dekat.
Lalu, mengapa ada analisa jika gempa di Sesar Lembang itu diprediksi mirip dengan tragedi likuefaksi yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah?
Setidaknya ada 3 fenomena ilmiah likuefaksi di bekas danau purba Bandung ini yang perlu dicermati dan diwaspadai:
1. Tanah lempung lunak di bekas danau purba
Wilayah Bandung Selatan dan Tengah (Gedebage, Dayeuhkolot, dan Rancaekek) berdiri tepat di atas endapan aluvial dan rawa bekas Danau Purba Bandung yang belum terkompaksi.
Karakteristik tanah ini memiliki kadar air sangat tinggi dan daya dukung yang sangat lemah.
2. Fenomena likuefkasi atau tanah mencair dan bergerak seperti di Petobo atau Palu
Jika Sesar Lembang bergerak aktif, bisa membangkitkan gempa darat dangkal dengan magnitudo M 6.5 hingga 7.0.
BACA JUGA:Liburan Seru di Lembang! Destinasi Favorit yang Wajib Kamu Kunjungi