Satpol PP dan Dinsosnaker Beda Persepsi Soal PSK KUNINGAN- Pihak Satpol PP Kabupaten Kuningan mengakui kalau penanganan masalah Pekerja Seks Komersil (PSK) belum maksimal. Bukan hanya di Kuningan, menurut Kasatpol PP Kuningan Deni Hamdani SSos, di tingkat provinsi pun belum dilakukan penanganan yang matang. “Memang, selama ini kami hanya mendata dan memberikan pengarahan kepada pelaku (PSK, red). Khusus bagi warga Kuningan, kami selalu berkoordinasi dengan pihak kepala desa (kades) agar warga diperhatikan. Allhamdulilah selalu berhasil. Sebab, ketika PSK menjual tubuhnya ada beberapa factor, salah satunya butuh uang,” jelas Deni kepada Radar, kemarin (1/1). Menurut dia, dengan belum adanya penanganan maksimal, mereka hanya didata lalu dilepas. Andai pihak provinsi melakukan penanganan jelas, masalah PSK tidak akan asal-asalan. Faktor utama belum maksimal penanganan tetap masalah klasik, yakni minimnya anggaran. Deni menilai, bukan hanya masalah PSK, masalah gelandangan dan pengemis (gepeng) pun selama ini Provinsi Jawa Barat tidak serius. Makanya, daerah-daerah di perbatasan membentuk badan kerja sama agar masalah sosial bisa ditanggulangi. “Dalam masalah sosial, Jawa Barat tertinggal jauh oleh Jawa Tengah. Imbasnya, kami membentuk Badan Kerjasama Antar Daerah (BKAD). Harapannya bisa memecahkan masalah PSK,” lanjut dia. Keberadaan panti rehabilitasi di Palimanan, Kabupaten Cirebon pun selama ini seolah tidak berjalan. Sehingga ketika ada PSK yang terkena rizia, tidak ada solusi selain dilepas. Pihak daerah sendiri selama ini berusaha maksimal untuk memberantas kemaksiatan. Namun, hasilnya seperti belum makismal karena terbentur anggaran. Sementara itu, Kadinsosnaker Kuningan, Drs H Dadang Supardan MPd membantah kalau selama ini perhatian provinsi minim. Sebagai buktinya, setiap tahun ada 10 PSK yang selalu dikirim untuk mengikuti pelatihan yang dilakukan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat di Lembang. “Memang selama ini PSK yang dirazia tidak bisa langsung kita kirim. Namun didata terlebih dahulu. Baru nanti setelah ada program, bisa dikirim,” ucap mantan Kadisdik Kuningan itu. Mengenai hasil dari program pelatihan selama ini, lanjut dia, tidak diketahui pasti karena tidak sepenuhnya mantan PSK bisa dipantau. Tapi, lanjut Dadang, semuanya dikembalikan ke diri masing-masing. Apabila mau merubah dan pemerintah memberikan pelatihan, harusnya mereka sadar dan bisa hidup seperti orang lain. Selama ini pelatihan yang dilakukan antara dua minggu hingga sebulan. “Ketika ada program dari provinsi, kami menawarkan kepada PSK yang selama ini sudah terdata. Mengenai mau atau tidak, terserah mereka. Namun pemerintah sudah berupaya maksimal,” jelasnya. Sementara itu, di luar PSK, Dinsosnaker Kuningan selalu mengarahkan warga yang terkena masalah sosial. Sebagai bukti, salah satunya masalah waria. Mereka sudah banyak yang hidup mandiri dengan pelatihan yang diberikan. (mus)
Hanya Didata, Lalu Dilepas
Jumat 02-01-2015,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 29-09-2026,17:30 WIB
Ramalan Zodiak Leo, Scorpio, dan Aquarius Minggu Ini: Saatnya Atur Energi, Fokus, dan Hubungan
Rabu 30-09-2026,05:13 WIB
Panduan Membeli Mobil Bekas Suzuki Ertiga Gen 1, Kelebihan Mesin K14B Irit BBM, Kekurangan Cuma Ini
Selasa 29-09-2026,23:02 WIB
Tanaman Minimalis Hias Ini Cocok untuk Rumah Kecil, Nomor 4 Paling Menarik dan Banyak Dicari
Selasa 29-09-2026,19:32 WIB
DPRD Kabupaten Cirebon Konsultasi ke Kemendagri soal Seleksi Dirut Tirta Jati
Selasa 29-09-2026,18:29 WIB
Kasus Suspek Influenza A di Kuningan Naik September 2026, Pasien Anak Paling Banyak
Terkini
Rabu 30-09-2026,15:00 WIB
PMI Asal majalengka Pulang dari Yordania Bawa 5 Anak Jadi Perhatian Pemerintah
Rabu 30-09-2026,14:30 WIB
DPRD Sidak Lapas Majalengka: Overkapasitas 222 Orang, Ini Masalah yang Jadi Sorotan
Rabu 30-09-2026,14:21 WIB
Akses Perumahan di Pabedilan Dipasangi Portal, KAI Akhirnya Buka Suara
Rabu 30-09-2026,14:02 WIB
Program IJD Cirebon: Baru Satu Ruas Jalan Disetujui Pemerintah Pusat
Rabu 30-09-2026,13:50 WIB