Pidato Mengejutkan Duterte: Saya Bukan Katolik, Saya Islam

Jumat 25-01-2019,15:28 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte tidak henti membuat kontroversi dengan pernyataannya. Kali ini, dia mengaku sebagai orang Islam, bukan Katolik. Dilansir dari Manila Times, berbicara di depan banyak orang yang mayoritas Muslim dalam pertemuan perdamaian untuk meratifikasi BOL di Kota Cotabato pada pekan lalu, Duterte menegaskan kembali bahwa ia bukan umat Katolik. Dia juga mengkritik para pemimpin umat Katolik yang ia sebut gila. “Ada bagian dari diri saya yang sebenarnya adalah Islam. Itu sebabnya bahkan jika saya dan para pendeta gila itu bertengkar, saya bukan seorang Katolik. Saya Islam. Itu benar,\" katanya dalam pidatonya. Duterte kemudian mengucapkan kata-kata Islami, seperti insyaallah dan bertakbir ketika mengomentari referendum yang merupakan hasil negosiasi puluhan tahun antara pemerintah dan separatif Moro, MNLF. \"Tuhan pasti sangat baik kepada kita. Fakta bahwa kita mencapai titik ini setelah bertahun-tahun negosiasi dan interupsi. Kita ada di sini. Insyaallah. Allah maha besar. Allahu Akbar,\" kata Duterte. Pernyataan Duterte datang sehari setelah Malacañang atau Istana Kepresidenan Filipina mengatakan kepada para pemimpin Gereja Katolik untuk tidak ikut campur dalam setiap urusan Presiden dalam menjalankan pemerintahan. Juru Bicaranya Kepresidenan Salvador Panelo mengatakan, omelan Presiden terhadap para pemimpin Gereja Katolik seharusnya tidak membuat para uskup khawatir dengan nasib gereja. Sebab selama ini gereja sudah lama berkuasa. \"Karena itu tidak perlu bagi beberapa pemimpinnya untuk bertindak tertekan dan memanifestasikan komentar yang tidak menyenangkan mereka terhadap Presiden, terutama sehubungan dengan bagaimana Presiden menjalankan pemerintahan,\" ujar Panelo. Pejabat Istana membuat pernyataan setelah Uskup Agung Lingayen-Dagupan Socrates Villegas menyatakan keprihatinan atas kesehatan Duterte. “Uskup Agung Lingayen-Dagupan Socrates Villegas telah menyatakan keprihatinannya tentang Presiden dan mengatakan bahwa pernyataan Gereja yang terakhir mungkin tidak baik untuk kesehatan dan statusnya sebagai pemimpin negara,” kata Panelo. “Kekhawatiran Uskup Agung Villegas, pada kenyataannya, dibagikan oleh mayoritas orang Filipina yang memahami bahwa keberhasilan Presiden ini sama dengan keberhasilan bangsa,” tambahnya. Duterte, yang lahir dan besar sebagai seorang Katolik, secara rutin menyerang Gereja dan ajarannya. Baru-baru ini, Presiden menyarankan kepada para pengamat untuk merampok dan membunuh para uskup yang berpenghasilan tinggi. Komentarnya ini keluar setelah para uskup memprotesnya tentang perang narkobanya yang menewaskan banyak orang. Malacañang berulang kali membela retorika Duterte terhadap anggota gereja. Mereka mengatakan bahwa ia hanya membela diri melawan uskup dan imam yang menggunakan mimbar untuk menentang pemerintahannya. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait