Daya Motor

Sampah yang Bermasalah

Sampah yang Bermasalah

-dok-radarcirebon.com

RADARCIREBON.COM - Tak jarang saat kita bepergian, kita melihat sampah yang tercecer di pinggir jalan. Entah itu plastik, daun, tisu, atau botol plastik bekas.

Keadaan ini bukan tidak disadari oleh orang-orang yang lewat, tetapi mereka bahkan mungkin termasuk kita, merasa jalanan yang kotor, adalah tugas penyapu jalan untuk membersihkan.

Beberapa diantara kita mungkin bersedia memungut sampah, lalu memasukkan ke dalam tong sampah. namun demikian, orang yang berlega hati untuk memungut sampah pun, terkadang menjadi merasa dongkol karena keadaan tong sampah yang rusak, kotor, dan bau.

Tong sampah yang disediakan di tempat-tempat umum di Indonesia sebenarnya ada tiga warna, yaitu hijau, kuning, dan merah. Hijau untuk membuang sampah organik/yang mudah membusuk, kuning untuk sampah yang dapat didaur ulang/sampah plastik, merah untuk sampah berbahaya atau beracun.

BACA JUGA:TPAS Kubangdeleg Cirebon Terancam Over Kapasitas, Sampah Menggunung dan Bau Menyengat

Tapi ketika kita membuang sampah, banyak dari kita yang belum memilah. Kita dapat menemukan sampah makanan di tong warna kuning, ada sampah baterai bekas di tong hijau, ada sampah plastik bungkus makanan di tong hijau. Hal semacam inilah yang membuat sampah di Indonesia bermasalah.

Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih sangat kurang. Bahkan di beberapa tempat masih ada orang yang membuang sampah ke selokan atau sungai. Jika ditanya mengapa tidak membuang sampah ke tempat sampah, alasannya lebih mudah dibuang ke sungai dan tidak perlu membayar retribusi sampah.

Di tempat lain, meski sudah ada dua macam tong sampah, tetapi masih tidak mau memilah. Jika ditanya mengapa tidak memilah sampah, jawaban mereka, “percuma juga dipilah. nanti dicampur lagi sama tukang sampahnya.”
Akibatnya, sampah yang dihasilkan oleh manusia ini dibuang begitu saja, ditumpuk di tempat pembuangan akhir sampah.

Sampah yang sedikit, lama-lama menggunung. Manusia menghasilkan sampah sekitar 0,7-1 kg per hari. Jika jumlah penduduk yang membuang sampah ke satu TPA yang sama sejumlah 300 orang, maka dalam satu hari ada 210-300 kg sampah setiap hari. Dalam satu bulan kurang lebih 6.300-9.000 kg atau 9 ton sampah. Itu baru satu TPA. Sedangkan dalam satu provinsi ada banyak TPA. Tak heran jika tempat pembuangan akhir menjadi gunung sampah.

BACA JUGA:Bank Sampah Berkasih Kolaborasi dengan ISIF

Sampah yang tidak dipilah dapat menghasilkan gas metana dari pembusukannya. Jika terkena panas matahari dapat meledak dan menimbulkan kebakaran. Kecelakaan akibat tertimbun sampah juga telah terjadi beberapa kali di Indonesia.

Tragedi longsor di TPST Bantargebang, Bekasi, pada Maret 2026 menyebabkan gunungan sampah menimbun sejumlah orang dan truk, mengakibatkan empat hingga tujuh korban jiwa. Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, seperti di TPA Kopi Luhur, TPA Brebes, dan TPA Sarimukti, sering terjadi, terutama saat kemarau, dan menyebabkan pencemaran udara serius akibat asap beracun (karbon monoksida, dioksin).

Beberapa pemerhati lingkungan menyampaikan bahwa saat ini kita tidak lagi “Buanglah sampah pada tempatnya”, tetapi sudah harus lebih dari itu. Pemilahan sampah menjadi hal yang sangat penting agar sampah tidak lagi menggunung. Kita tidak bisa lagi hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya (tong sampah), tapi benar-benar pada tempatnya yaitu sesuai jenisnya. Sampah plastik, kaca, besi, kain, kertas, dan kardus dapat didaur ulang.

Sekarang ini sudah ada beberapa agen (swasta) sampah yang menampung benda-benda tersebut. Mereka menerima kiriman dari berbagai daerah antara lain, Waste4change, Bank Sampah, dan Gringgo.

BACA JUGA:LPM Karya Mulya Rangkul Mahasiswa Olah Sampah Menjadi Bernilai

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: