Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)
Azrul Ananda bersama John Moon di Kansas.-Foto: Dok. pribadi-RADARCIREBON.COM
Plus, saat musim gugur itu, kalau weekend saya juga punya tugas ekstra melatih anak-anak SD main sepak bola.
Baru pada musim semi saya ikut tim atletik (Track and Field). Masuk pasukan kelas 2 mil alias 3,2 km alias lari delapan lap. Saya juga ikut kategori high jump.
Tapi seperti olahraga sebelumnya, akhirnya tak pernah diturunkan lomba. Alasan utama sama: Karena memang kalah kemampuan (he he he). Lagi-lagi, saya lebih berfungsi sebagai fotografer dan tim peliput.
Untuk urusan meliput dan memotret itu, tugas terbesar saya sebenarnya justru ke tim basket. Kalau itu saya benar-benar wajib dan tidak tergantikan. Koran sekolah saya punya tiga fotografer, yang dua adalah pemain basket. Jadi, mau tidak mau, harus saya yang ke mana-mana mendampingi dan meliput tim basket Ellinwood High School.

Azrul Ananda saat menjadi fotografer koran sekolah di Kansas.-Foto: Dok. pribadi-RADARCIREBON.COM
Teman-teman semua, yang terakhir itu adalah benih-benih DBL...
***
Alhamdulillah, saya sama sekali tidak pernah merasakan ketidakenakan selama setahun di Kansas.
Padahal, saya satu-satunya anak Asia di radius 150 km. Mungkin lebih. Bahkan, di SMA saya, anak kulit hitam juga hanya satu. Semua lainnya kulit putih. Kebanyakan orang Kansas sejarahnya adalah keturunan Jerman atau Rusia. Termasuk John Mohn. Jadi kulitnya putih banget, hidungnya runcing, dan rambutnya banyak yang pirang. Sebagian lagi keturunan Irlandia, seperti Chris Mohn.
Karena itu, sampai hari ini, saya selalu menegaskan reputasi orang Kansas sebagai orang yang ramah. Cerita Superman juga menegaskan itu. Ada alasan kenapa pesawat Kal-El/Clark Kent mendarat di tengah Kansas saat masih bayi. Dia bisa ditampung dan dibesarkan oleh orang tua angkat Kansas yang baik hati. Menjadikannya sosok berkekuatan super tapi memiliki hati yang sangat baik. Dan tidak berkata kotor!
Saya juga satu-satunya siswa muslim di sekolah. Semua di sekolah tahu betul itu. Mulai dari guru, siswa, sampai seluruh staf. Mereka sangat memperhatikan berbagai kebutuhan saya yang berbeda. Misalnya saat makan siang di kafetaria sekolah. Para koki selalu menyiapkan makanan khusus untuk saya yang tidak mengandung pork.
BACA JUGA:6 Tanaman Hias Tahan Cahaya Minim, Tak Butuh Banyak Air, Mudah Dirawat dan Cocok untuk Ruangan Redup
Menu makan siang di sekolah memang sangat komplet. Setiap anak mendapatkan porsi yang sama. Ada susu segar, buah, karbohidrat, protein, dan sedikit snack atau dessert. Semua dimasak dan disajikan secara fresh di sekolah. Tidak gratis. Tapi sangat murah. Waktu itu hanya USD 2 per orang. Sangat-sangat murah untuk ukuran Amerika.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

