Merawat Kesehatan Mental selama Pembelajaran Jarak Jauh

Merawat Kesehatan Mental selama Pembelajaran Jarak Jauh

PANDEMI Covid-19 mengubah pola kehidupan masyarakat mulai dari pola interaksi seperti saat bertemu kerabat, saat bersilaturahmi, saat menghadiri pernikahan bahkan pola interaksi dalam pendidikan. Tidak dapat dipungkiri, pola interaksi yang berubah secara drastis ini menimbulkan banyak sisi positif dan negatif. Sisi positifnya masyarakat cenderung lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri dan keluarganya bahkan kampungnya, tetapi sisi negatifnya adalah masyarakat cenderung lebih individualis dan terkadang ketakutan akan terpapar virus Covid-19 membuat silaturahmi sulit untuk dilakukan secara langsung atau tatap muka. Hampir semua aspek kehidupan tedampak pandemi Covid-19 tidak terkecuali aspek pendidikan.

Perubahan drastis dari pertemuan tatap muka secara langsung/luar jaringan atau luring menjadi pertemuan tatap maka secara maya/dalam jaringan atau daring membuat siswa/mahasiswa serta orang tua/wali mengalami kesulitan dalam skema sistem pembelajaran baru ini. Sebagaimana survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) Kemendikbud pada tahun 2020 menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan selama pembelajaran daring dan survei ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih (2020) mengenai persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring.

Dalam penelitian tersebut, mahasiswa juga merasa kesulitan selama melakukan kuliah daring, baik karena sinyal, materi, dan interaksi yang terbatas. Kesulitan ini tentunya akan berdampak pada psikologis mahasiswa dan stres yang akut dapat berakibat pada hal yang fatal seperti melukai diri dan bahkan keinginan bunuh diri sebagaimana berita CNN yang diunggah jumat 8 Oktober 2021 mengenai mahasiswa yang bunuh diri akibat stres karena tidak kunjung dapat menyelesaikan skripsinya.

Pada esai ini, kami sebagai tim peneliti Riset Sosial Humaniora (RSH) dalam Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai oleh Direktorat Jendral Simbelmawa, bermaksud untuk menunjukkan bahwa penelitian kami mengenai depresi, kecemasan dan stresmemperlihatkan adanya kecenderungan mahasiswa mengalami ketiga hal tersebut.

Dari 266 responden mahasiswa, tingkat stress rata-rata ada pada tingkat ringan, sedangkan pada kekhawatiran pada tingkat sedang, dan depresi pada tingkat ringan pada skala DASS (Depression, Anxiety, and Stress Scale) yang tingkatannya terbagi menjadilima yakni normal, ringan, sedang, parah dan sangat parah. Tingkatan parah hingga sangat parah pada stres terhitung sebanyak12,78%, pada kecemasan sebanyak 32,33% dan pada depresi terdapat 16%.

Hasil ini diambil dari salah satu program studi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta dalam konteks Covid-19. Sedangkan di salah satu universitas di Banyuwangi sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Astutik et al (2020), stres dengan tingkatan parah hingga parah yang dialami oleh mahasiswa adalah 5,7%. Sedangkan pada kecemasan sebanyak 20,1% dan pada depresi sebanyak 8,3% dengan skala yang sama, dengan konteks tidak ada pandemi. Baik dalam konteks pandemi maupun tidak, stres, kecemasan dan depresi dapat muncul dengan berbagai sebab tetapi dengan adanya pandemi dan juga perubahan sistem dari tatap muka hingga sistem jarak jauh membuat mahasiswa cenderung merasa kesulitan dalam menjalani perkuliahannya.

Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fawaz dan Samaha (2020) yang mengkaji depresi, kecemasan dan stres pada mahasiswa Lebanon yang juga menyebutkan bahwa mereka mendapatkan tugas yang lebih banyak daripada biasanya belum lagi dengan adanya kerusakan sistem saat menggunakan teknologi pembelajaran daring.

Dari hasil wawancara yang kami lakukan, mahasiswa yang memiliki skor depresi, kecemasan, dan stres yang parah hingga sangat parahmengalami kesulitan dalam belajar, kesulitan dalammemahami materi dan mereka merasa tertinggal dari rekan-rekannya yang lain. Hal-hal tersebut disebabkan oleh adanya kesulitan yang mereka alami selama pembelajaran daring salah satunya adalah kurangnya interaksi dengan dosen dan adanya tugas yang cukup membebani mahasiswa.

Mereka merasa bahwa kuliah daring membuat pemahaman terhadap materi menurun dan penurunan performa ini diikuti dengan penurunan nilai mereka.Hal tersebut sesuai dengan gejala orang yang mengalami depresi menurut National Institute of Mental Health atau NIMH yaitu munculnya perasaan tidak berharga, perasaan sedih, kehilangan selera pada hal-hal yang disukainya, gelisah, dan sulit berkonsentrasi.

Dengan melihat kenyataan ini, guru, tenaga pengajar, dan dosen diharapkan memahami kondisi dan situasi yang dialami oleh mahasiswa di kelasnya, paling tidak guru, tenaga pengajar dan dosen memberikan tugas yang tidak membebani siswa dan mahasiswanya karena apabila pemberian tugas yang banyak dilakukan oleh hampir semua guru dan dosen, mahasiswa akan merasa frustrasi dalam mengerjakan tugas dengan tenggat waktu yang ketat.

Selain dari itu, guru dan dosen perlu memikirkan adanya kerja kelompok yang berbasis pada proyek sehingga ketika mengerjakan tugas, mahasiswa dapat mengerjakan tugas tersebut sebagai progres penyelesaian proyek kelasnya. Di sisi siswa dan mahasiswa, siswa dan mahasiswa perlu membangun komunikasi yang baik dengan guru dan dosennya sehingga ketika mengalami masalah sinyal, masalah perangkat yang digunakan, serta masalah lain seperti sakit, atau kesulitan dalam mengerjakan materi, siswa dan mahasiswa dapat mengkomunikasikan kepada guru dan dosennya. Diharapkan guru dan dosen juga dapat memahami kondisi siswa dan mahasiswa sehingga komunikasi dua arah dapat terjalin dengan baik.

Faktor-faktor di atas merupakan faktor eksternal yang kemungkinan dapat menjadi penyebab terjadi depresi, kecemasan dan stres. Yang lebih penting lagi dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup termasuk dalam hal belajar dan kuliah adalah dengan merawat kesehatan mental. Cara merawat kesehatan mental menurut National Institute of Mental Health atau NIMH yaitu dengan lebih aktif bergerak dan berlatih fisik, melewatkan waktu luang bersama orang terdekat atau kerabat, berpikir positif karena pikiran positif akan menggantikan pikiran negatif, tentukan skala prioritas dan tujuan yang realistis.

Selain itu, Massimo (2020) juga menyampaikan bahwa untuk mengurangi stres yang merupakan mekanisme tubuh untuk melawan tekanan, kita perlu mengatur waktu dengan pembagian waktu yang jelas dan berkala dan ketika bekerja tentukan tujuan-tujuan kecil untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Namun demikian, apabila cara-cara mengatasi depresi, kecemasan dan stres ini kurang berdampak signifikan maka kita perlu berkonsultasi dengan psikolog dan jangan merasa ragu untuk melakukannya karena kesehatan tidak hanya diperlukan oleh tubuh secara fisik tetapi juga tubuh secara psikis, dan jangan lupa untuk berdoa karena salah satu cara mengurangi depresi, kecemasan dan stres adalah dengan cara meditasi yang sering kita jumpai saat kita beribadah dan berdoa. (*/opl)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: