Tarif Resiprokal Donald Trump Ancam Kepercayaan Investor Hingga PHK di Indonesia
Wadek I FEB UGJ sekaligus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Moh Yudi Mahadianto SE MM MPM CAP-ISTIMEWA/RADARCIREBON.COM-
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Tekanan besar pada perekonomian Indonesia terasa usai pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump mengumumkan penerapan tarif resiprokal sebesar 32 persen. Kebijakan ini diperkirakan akan turut berdampak pada ekonomi makro hingga mikro.
Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gunung Jati (Wadek I FEB UGJ) sekaligus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Moh Yudi Mahadianto SE MM MPM CAP menuturkan dua sektor utama akan terdampak dengan adanya penerapan tarif ini, yakni sektor padat karya dan perikanan.
Sektor padat karya dan perikanan adalah dua sektor yang sangat penting dalam ekonomi Indonesia, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Dengan adanya penerapan tarif resiprokal, biaya prodiksi meningkat sehingga menurunkan daya saing ekspor Indonesia di pasar AS karena harga barang menjadi lebih mahal, akan kalah saing dengn negara sekitarnya seperti Vietnam," ungkapnya.
BACA JUGA:Persik Kediri Imbangi Persebaya Surabaya 3-3, Persib Bandung Juara Liga 1 Musim 2024-2025
BACA JUGA:OJK Imbau Perbankan Tingkatkan Transparansi Informasi Kepada Nasabah, Berikut Tujuannya
Melihat hal ini, pemerintah harus sigap untuk membentuk satgas tenaga kerja karena dikhawatirkan akan terjadi Pemutusan Hubungan kerja (PHK) besar-besaran.
Gelombang pemutusan tenaga kerja ini disebabkan dari menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Terbukti dalam beberapa waktu lalu, terjadi kasus PHK besar di PT Yihong Kab Cirebon.
"Dalam kasus ini, pemerintah kabupaten Cirebon sudah cukup baik untuk berkomunikasi dan bernegosiasi agar perusahaan tetap beroperasi dan membuka kembali peluang tenaga kerja, namun perlu diwaspadai hal ini bisa terjadi pada perusahaan global hingga tekstil di kondisi ekonomi saat ini," ungkapnya.
Lenjutnya, pelaku usaha yang kerap bermain dalam pasar ekspor semestinya bisa melihat pasar lebih luas dalam kondisi ekonomi ini.
Saat ada penerapan tarif resiprokal di AS pelaku usaha bisa melakukan ekspor ke beberapa negara lain.
BACA JUGA:Cegah Banjir Datang Kembali, Sungai Cikalong Kota Cirebon Mulai Dikeruk
"Penjajakan ekspor ke beberapa negara di Eropa hingga Asia Timur bisa menjadi alternatif saat ada penerapan tarif resiprokal di AS," ujarnya.
Sementara itu, untuk menyikapi situasi ini Yudi pun berpesan pada masyarakat untuk bisa menahan pengeluaran selain untuk kebutuhan primer.
Pembelian instrumen investasi juga sebaiknya dilakukan dengan bijak bukan hanya sekadar ikut-ikutan.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, memiliki uang tunai sangat penting sebagai dana darurat dan untuk menjaga stabilitas keuangan.
Uang tunai memungkinkan masyarakat untuk tetap beraktivitas ekonomi meskipun ada gangguan pada sistem pembayaran digital atau saat krisis ekonomi. "Masyarakat tak perlu panik, lebih bijak lagi dalam menggunakan uangnya," tuturnya.
BACA JUGA:Montela Buronan Kasus Penganiayaan di Gunungjati Cirebon Ditangkap di Semarang
Ia menambahkan, bagi para pelaku UMKM persaingan luar biasa akan turut dihadapi dengan peluang yang cukup besar. Untuk itu, penting bagi para pelaku UMKM terus meningkatkan kompetensinya. Strategi penjualan hingga digitalisasi perlu dilakukan untuk dapat bersaing. Yudi yakin, kondisi ekonomi saat ini bisa terlewati dengan tepat.
"Ini tergantung pada kebijakan pemerintah, seberapa cepat menanggulangi dan merespon kebijakan tarif. Pemerintah daerah utamanya, saat ini harua bisa bernegosiasi dan memastikan tidak terjadi PHK," tukasnya. (apr)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase


