Bupati-Sopir Saling Ngotot

Bupati-Sopir Saling Ngotot

Angkot 03 dan 04 Mogok Seharian KUNINGAN – Ratusan sopir angkot 03 dan 04, Senin (12/7) kembali melakukan aksi unjuk rasa. Mereka mendatangi kantor Bupati Kuningan guna menyuarakan aspirasinya yang merasa dianaktirikan. Mereka menuntut agar bisa beroperasi sampai ke Sadamantra. Pantauan Radar, aksi tersebut berlangsung sejak pukul 08.00. Sedikitnya 150 sopir angkot baik 03 maupun 04 menggedor pintu gerbang gedung putih. Mereka ingin bertemu bupati untuk menyuarakan aspirasinya secara langsung. Sepanduk dan pamplet bertuliskan suara hatinya dibentangkan para sopir. Tuntutan mereka cuma satu yakni ingin agar angkutan 03 dan 04 bisa beroperasi sampai Sadamantra. Sayangnya aksi mereka tidak dilengkapi dengan pengeras suara, sehingga syiar dari aksi tersebut kurang menggema. Meski begitu, aparat kepolisian dan Satpol PP melakukan penjagaan ketat di area gedung putih. Bahkah, pintu gerbang kantor setda tersebut ditutup rapat-rapat agar para sopir tidak memasukinya. Pihak Pemkab hanya mempersilahkan perwakilannya saja untuk bisa masuk kantor. Di aula Dispenda perwakilan para sopir berdialog dengan pejabat Pemkab Kuningan. Yang menerima mereka yakni Kepala Dishub Drs Jaka Chaerul didampingi oleh para kabidnya seperti Kabid Angkutan Dadi Suryadi dan Kepala UPTD Terminal, Aan Henaro. Hadir pula pengurus Organda Kuningan. Dialog antara pihak sopir dan Dishub berlangsung alot. Namun hingga dialog berakhir, tuntutan para sopir tersebut tidak dipenuhi. Jaka Chaerul tetap bersikukuh tidak memperbolehkan angkot 03 dan 04 beroperasi sampai Sadamantra. ”Saya hanya sebagai pelaksaana. Mari kita bersama-sama mengamankan SK bupati. Jadi saya minta agar bapak-bapak jalan seperti biasa. Kami juga tidak akan diam tapi akan berusaha mencarikan jalan keluarnya sambil berjalan. Karena angkot jurusan Cilimus-Cirendang juga punya alasan,” tegas Jaka Chaerul ketika didesak oleh para sopir. Saat para pengunjuk rasa terus mendesak, Jaka Chaerul mulai bernada tinggi. Seraya mengatakan bahwa bupati telah menegaskan bahwa angkot 03 dan 04 dilarang ke Sadamantra, Jaka juga mengimbau para sopir untuk tidak memaksakan kehendak. ”Bupati telah menegaskan seperti itu, kami hanya pelaksana kebijakan. Jadi anda jangan memaksakan kehendak. Ini merupakan keputusan bupati berdasarkan hasil rapat dengan fokorlantas,” tandas mantan Camat Ciawigebang itu. Meski dialog dibubarkan, para sopir terlihat tidak puas. Dedi Baping dan Ujang selaku pengurus angkot 03 dan 04 menyatakan bahwa para sopirpun bisa bersikap tegas. Mereka mengancam akan melakukan mogok jalan sampai ada pemenuhan tuntutan. ”Ok kalau pak kadis tegas, kami juga bisa tegas. Kami akan mogok sampai ada keputusan. Masalah dapur ngebul kami sudah pikirkan,” tegas Dedi dan Ujang. Menurut mereka, pemerintah lebih kasihan kepada angkot yang hanya 20 sampai 30 unit saja. Sedangkan untuk angkot yang jumlahnya sekitar 150 unit, tidak dikasihani. Padahal jika melihat sejarah sebelumnya, angkot 03 dan 04 itu beroperasi sampai Jalaksana. ”Saya ini sudah puluhan tahun jadi sopir. Sejarah angkot itu tahu persis, begitu pula sejarah angkot Cirendang-Cilimus.  Awalnya ada mobil angkutan itu pada tahun 1974. Tahun 1978 diganti dengan angkot dengan trayek Jalaksana-Kota,” jelas Dedi menjelaskan kronologis awal. Dilanjutkan, pada tahun 1984 muncul protes dari angkutan elf. Protes mereka berbuntut pada pemogokan. Guna mengatasi masalah penumpang dari Cirendang ke Cilimus, pihak Dishub mengadakan angkutan bantuan Cirendang-Cilimus. Awalnya hanya 9 unit yang mobilnya diambil dari angkot 03 dan 04. ”Masa dari angkutan bantuan jadi trayek sendiri. Janji akan mengambil angkotnya dari 03 dan 04, malah ingkar. Jadi kami ingin agar bisa sampai ke Jalaksana kembali,” tukasnya. Pantauan Radar, para sopir berkumpul di Taman Dahlia depan kantor bupati sampai sore. Mereka tidak mengoperasikan angkotnya seperti biasa. Sehingga para penumpang yang terbengkalai diangkut oleh mobil pemerintah dan polisi. (ded)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: