Cirebon Teater Festival 2, Kekinian Tanpa Melupakan Tradisi

Cirebon Teater Festival 2, Kekinian Tanpa Melupakan Tradisi

CIREBON- Kota Cirebon menjadi salah satu kota yang telah tercatat menorehkan tinta emas dalam sejarah Teater Indonesia dengan melahirkan dua tokoh Teater Indonesia, yaitu Arifin C Noor dan Nano Riantiarno. Namun seiring dengan berjalannya waktu, torehan itu kini mulai perlahan tenggelam. Dewasa ini, perkembangan Seni Teater di kalangan generasi muda kian memudar. Pesatnya kemajuan teknologi dan kian mudahnya interaksi tidak dibarengi dengan penguatan kreatifitas. Seni Teater yang sarat akan makna dan pesan moral kian menepi oleh desakan industri hiburan. Dengan melihat kondisi seperti ini, maka apresiasi masyarakat terhadap seni Teater perlu ditingkatkan kembali. Salah satu cara efektif yang perlu ditempuh adalah dengan menyelenggarakan pergelaran, workshop dan dialog secara berkala dan rutin dengan kemasan yang baik. Seperti yang dilakukan Tjaroeban Inc. 11 hari berturut-turut sejak 2-12 April menyuguhkan pertunjukan dari beragam pelaku seni teater di Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang. Lebih dari 20 komunitas teater dari Banten hingga Lombok yang akan mempersembahkan pertunjukan. Seperti Teater Dugal, Klub Teater Majalengka, Mixi Imajimietheatre, Teater Casssanova, dan lainnya. Selain itu, pengisi workshop dari penulisan naskah oleh Dr Benny Yohanes MHum, pemeranan Dr Tony Supartono MSn atau yang akrab disapa Tony Broer, pantomim oleh Wanggi Hoediyanto SSn, artistik oleh Dr Joko Kurnain MSn, manajemen produksi oleh Ratna Riantiarno, penyutradaraan oleh Nano Riantarno, dan spesial performance oleh Putu Wijaya. Ditemui usai workhsop, Tony Broer mengatakan, perkembangan seni teater tergantung intensitas pertunjukan. Seperti di Cirebon, antusias dan geliat terhadap seni teater masih terlihat dari para pelajar. Ketertarikan dan minat masyarakat serta kemauan para pelaku seni terhadap seni pertunjukan, menurut Tony perlu adanya kepedulian semua pihak. \"Sekarang sudah beda zaman. Saya sebut saat ini generasi instan, kita tidak bisa menolak, karena teknologi semakin maju. Ini yang jadi salah satu masalah, harusnya siapapun itu, pelaku seni khususnya, harus mengutamakan semangat tradisi, lihat Mimi Rasinah. Almarhum sebagai pelaku seni tari topeng itu atas dasar pengabdian,\" ujarnya. Hal yang sama disampaikan Wanggi Hoediyanto, seniman pantomim. Ia menilai, untuk mampu bertahan di zaman digitalisasi, pelaku seni harus mampu merawat dan menjaga tradisi-tradisi yang lampau dan masuk ke ruang kekinian. \"Mari berkreatifitas, berani berekspresi dan berani mewujudkan ide. Kota ini memberi aura yang berbeda dalam melahirkan karya seni, Cirebon menjadi kota yang hidup, berkarakter dan punya jiwa serta tak melupakan semangat tradisi,\" saran Wanggi. (mik)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: