Kepala Perpustakaan Usul Sejarah Cirebon Masuk Kurikulum

Kepala Perpustakaan Usul Sejarah Cirebon Masuk Kurikulum

KESAMBI – Perkembangan dunia yang semakin modern membawa konsekuensi bagi generasi penerus bangsa. Banyak dari mereka tidak lagi mengetahui secara utuh sejarah, seni dan budaya Cirebon. Karena itu, muatan sejarah, seni dan budaya harus dimasukan ke dalam kurikulum sekolah. Tujuannya, agar siswa SD, SMP, SMA memahami sejarahnya. Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Kota Cirebon, Drs Atang Hasan Dahlan MSi mengatakan, banyak buku yang menjabarkan sejarah, seni dan budaya Cirebon secara lengkap. Bahkan, buku tersebut sudah dicetak atas sepengetahuan dan persetujuan Kementerian Pendidikan RI. “Ada pergeseran nilai di kalangan anak muda generasi penerus bangsa. Setidaknya, minat dan pengetahuan mereka akan sejarah serta seni budaya Cirebon belum dapat dikatakan baik,” ujar Atang, kepada Radar, Kamis (14/4). Karena itu, Atang mengusulkan agar sejarah seni dan budaya Cirebon dimasukan sebagai kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Dengan demikian, mereka tumbuh dengan nilai-nilai positif dan pesan bijak yang tertuang dalam setiap kegiatan dan cerita sejarah. Kepala Dinas Pendidikan, Dr H Wahyo MPd mengatakan, tidak mempersoalkan bila sejarah, seni dan budaya Cirebon masuk menjadi kurikulum sekolah. Selama ini, siswa yang ada di sekolah Kota Cirebon sudah diagendakan untuk mengetahui tempat wisata sendiri sebelum melakukan studi tur ke luar kota. Dengan demikian, diharapkan mereka mengetahui jati diri Kota Cirebon. “Ini menjadi pendidikan moral bagi mereka,” ucapnya. Wahyu mengakui, ada penurunan nilai di kalangan penerus bangsa dalam hal memahami sejarah dan budaya lokal. Karena itu, upaya tersebut patut mendapatkan apresiasi bersama. selama ini ada muatan lokal dan menjadi kurikulum sekolah. Untuk memasukan pelajaran sejarah dan budaya Cirebon ke dalam kurikulum, tidak perlu ada izin dari Kementerian Pendidikan. Untuk buku pelajaran sejarah Cirebon beserta budayanya, perlu disuguhkan yang telah lulus uji kompetensi. Artinya, buku tersebut dapat diterima semua kalangan. Karena itu, akan lebih baik bila menggelar semacam seminar terlebih dulu untuk memastikan buku sejarah dan budaya yang diajarkan sesuai. (ysf)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: