Update Temuan Mayat dengan Kepala Terpenggal: Pelaku Mutilasi Kelompok Teroris Ali Kalora

Update Temuan Mayat dengan Kepala Terpenggal: Pelaku Mutilasi Kelompok Teroris Ali Kalora

Tewasnya pimpinan teroris Poso Santoso belum membuat  anggota kelompoknya untuk menyerahkan diri kepada aparat keamanan. Setelah Santoso tertembak, pimpinan kelompok radikal Mujahidin Indonesia Timur (MIT) saat ini dipegang Ali Kalora. Dua anggota kepolisian terluka setelah ditembak kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora saat mengevakuasi korban mutilasi di wilayah Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Jasad warga sipil yang terputus kepalanya sengaja dijadikan umpan agar polisi datang. Ronal Batau alias Anang, lelaki berusia 34 tahun tewas dengan kepala terpenggal di jembatan Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong ,Sulawesi Tengah. Anang adalah warga Toraja, Sulawesi Selatan. Namun, Anang sudah bermukim di Sausu sejak tujuh tahun lalu dan bekerja sebagai penambang emas liar. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan pelaku mutilasi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) merupakan anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso. \"Pelaku dari mutilasi itu adalah kelompok DPO MIT Poso yang dipimpin oleh Ali Kalora Cs,\" kata Dedi di kantor Divisi Humas Polri, Jakarta, Senin (31/12). Saat ini, kata Dedi, Satgas Tinombala telah mengantongi nama-nama pelaku mutilasi dan sedang dalam pengejaran. Polisi juga sudah mengetahui jenis senjata yang mereka gunakan. Bahkan, dua anggota Kepolisian dari Polres Parigi Moutong dan Polda Sulawesi Tengah ditembaki oleh kelompok tak dikenal (OTK) saat melakukan olah TKP kasus mutilasi dengan korban RB alias A (34) suku Toraja. Dua anggota itu yakni Bripka Andrew Maha Putra dari Resmob Satgas Tinombala dan Bripda Baso dari satuan intelkam Polres Parimo. “Mereka ditembak saat tengah melakukan olah TKP korban mutilasi Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah,\" imbuh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Diketahui, Operasi dengan sandi Aman Tinombala 2018 di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) terus mengejar 10 anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Hal itu disampaikan Wakil Kapolda (Wakapolda) Sulteng Kombes Polisi Setyo Boedi. \"Jumlah DPO ada sebanyak 10 orang,\" ujar Wakapolda saat jumpa pers kinerja Polda Sulteng Tahun 2018 di Mapolda, Senin (31/12/2018). Dia menjelaskan, hingga akhir tahun 2017, operasi yang saat itu bersandi Tinombala 2018 mengejar tujuh DPO tersisa yakni Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon asal Poso. Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar asal Poso, Qatar alias Farel asal Bima NTB, Nae alias Galuh asal Bima NTB, Basir alias Romzi asal Bima NTB. Abu Alim dan Kholid asal Bima NTB. Sementara berdasarkan keterangan Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiyarto sebelumnya, jumlah DPO terorisme di Poso bertambah tiga orang, yaitu Alhaji Kaliki, Rajif Gandi Sabban alias Rajef, dan Aditya alias Idad, yang merupakan warga Poso dan NTB. Siapa Ali Kalora?  Ali lahir di Kalora, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia. Dia memiliki seorang istri yang bernama Tini Susantika, alias Umi Farel. Nama \'Kalora\' di namanya, di ambil dari wilayah tempatnya dilahirkan, sehingga nama Ali Kalora seringkali digunakan di media massa. Ali merupakan salah satu pengikut senior Santoso di kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Setelah kematian Daeng Koro, salah satu figur utama di kelompok MIT, Ali dipercayakan untuk memimpin sebagian kelompok teroris yang sebelumnya dipimpin oleh Daeng Koro. Faktor kedekatannya dengan Santoso dan kemampuannya dalam mengenal medan gerilya membuat ia diangkat menjadi pemimpin. Ali Kalora adalah sosok penunjuk arah dan jalan di pegunungan dan hutan Poso. Ini karena Ali merupakan warga asli dari Desa Kalora, Poso, sehingga dirinya diyakini menguasai wilayah tempat tinggalnya. Ia berpotensi menjadi \'Santoso baru\' karena latar belakang pengalamannya yang cukup senior. Diketahui, MIT berdiri pada awal 2010 pasca konflik sektarian berdarah yang mengguncang Poso pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. MIT lahir setelah Jemaah Islamiyah (JI) melakukan operasi di Poso berjuluk Proyek Uhud. Pada masa kejayaannya, anggota MIT berjumlah sekira 40-an orang. Lebih dari 20 serangan terjadi dalam periode 2011-2016, menimbulkan puluhan korban tewas. Kebanyakan serangan tersebut menyasar aparat kepolisian dan warga yang dituduh sebagai mata-mata Densus 88. Butuh waktu empat tahun hingga pemerintah bisa menekan gerakan teror kelompok Santoso. Sejak 2012 hingga 2016 aparat telah menggelar sedikitnya 10 operasi keamanan mulai dari Operasi Aman Maleo, Operasi Camar Maleo hingga Tinombala. Sekitar 30 anggota MIT tewas dalam rangkaian operasi tersebut, sisanya tertangkap atau menyerahkan diri. Pengamat terorisme Sidney Jones dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) mengatakan bahwa kelompok MIT masih perlu diwaspadai meski jalur logistiknya telah lama diputus sejak aparat melancarkan operasi keamanan. \"Kelompok MIT memiliki dukungan dari masyarakat di sekitar Poso pesisir. Tanpa dukungan dari masyarakat lokal pasti tidak bisa bertahan. Saya kira ini kembali akibat konflik Poso zaman 2001,\" ujar Sidney. (*)    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: