Daya Motor

Syarat Sah Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Sesuai Al-Qur’an dan Hadis

Syarat Sah Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Sesuai Al-Qur’an dan Hadis

Syarat Sah Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Sesuai Al-Qur’an dan Hadis-ist-Radar Cirebon

RADARCIREBON.COM - Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam yang ketiga dan wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang memenuhi ketentuan.

Ibadah ini tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri serta meningkatkan ketakwaan. Agar puasa yang dijalankan sah secara syariat, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

‎Pengertian Puasa dalam Islam

Secara bahasa, puasa (shaum) berarti menahan diri. Adapun dalam istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dengan disertai niat karena Allah SWT.

Kewajiban puasa Ramadhan ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183:


‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn
‎Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

BACA JUGA: Gerhana Bulan Total Nanti Malam, Kemenag Ajak Umat Islam Sholat Khusuf, Apa Itu?

Ayat inilah yang menjadi dalil utama kewajiban berpuasa bagi setiap Muslim.
‎Syarat Sah Puasa

Dalam fikih Islam, syarat sah puasa adalah ketentuan yang menentukan apakah ibadah puasa dianggap sudah benar atau tidak. Para ulama dari berbagai mazhab merujuk pada Al-Qur'an, hadis Nabi, dan ijma' dalam menetapkan syarat-syarat berikut:

1. Beragama Islam
‎Puasa hanya sah jika dilakukan oleh seorang Muslim. Orang yang belum memeluk Islam tidak mempunyai kewajiban puasa, dan ibadahnya belum dianggap sah secara syariat.

‎2. Berakal
‎Orang yang tidak berakal, seperti karena gangguan jiwa permanen, tidak dikenai kewajiban puasa. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW:

‎“Diangkat pena (tidak dibebani hukum) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai sembuh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
‎Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan menjadi landasan dalam pembahasan taklif (pembebanan hukum).

BACA JUGA: Penampakan Tumpukan Sampah di Jalan Poros Penguragan , TPS Pasar Minggu Palimanan Juga Luber

3. Mumayyiz (Bagi Anak-anak)
‎Anak yang sudah mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk) boleh berpuasa dan puasanya sah, meskipun belum wajib. Ini merupakan bentuk pendidikan ibadah sejak dini.

‎4. Suci dari Haid dan Nifas
‎Wanita yang sedang dalam keadaan haid atau nifas tidak sah menjalankan ibadah puasa. Namun, ia memiliki kewajiban untuk mengqadha (mengganti) puasa tersebut di hari lain setelah suci.
‎Ketentuan ini berlandaskan pada hadis riwayat Aisyah RA:

‎"Kami dahulu mengalami haid (di zaman Nabi SAW), maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat." (HR.Muslim)

5. Berniat pada Malam Hari
‎Niat merupakan rukun sekaligus syarat sah puasa. Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Nabi Muhammad SAW bersabda:
‎“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasanya.” (HR. An-Nasa'i dan Abu Dawud)

BACA JUGA: Bocoran Poco X8 Pro Max: Spek Gahar, Layar 144Hz dan Dimensity 9500S, Skor AnTuTu 3,2 Juta

Niat tidak harus diucapkan secara lisan, tetapi cukup di dalam hati.

Pentingnya Memahami Syarat Sah Puasa
‎Memmahami syarat sah puasa sangat penting agar ibadah yang dijalankan tidak sia-sia. Selain memenuhi syarat sah, umat Islam juga dianjurkan menjaga adab dan menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti berkata dusta dan berbuat maksiat.

‎Dengan Merujuk pada Al-Qur'an dan hadis yang sahih, umat Islam dapat menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan keyakinan dan ketenangan. Semoga penjelasan mengenai syarat sah puasa ini membantu meningkatkan pemahaman serta kualitas ibadah kita selama bulan suci.
‎“Artikel ini ditulis oleh Rahma Diniati mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon yang sedang magang di Radar Cirebon.”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait