Daya Motor

Kebocoran Air PDAM Kota Cirebon 35 Persen, Simak Penjelasan Sopyan Satari

Kebocoran Air PDAM Kota Cirebon 35 Persen, Simak Penjelasan Sopyan Satari

GANTI PIPA: Salah satu titik yang menjadi perhatian PDAM adalah di kawasan Jalan Cipto, khususnya dari Lawang Abang hingga Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).-Abdullah-radarcirebon.com

CIREBON, RADARCIREBON.COM  – Tingkat kebocoran air pada jaringan PDAM Kota Cirebon saat ini masih cukup tinggi, mencapai sekitar 35 persen.

Kondisi tersebut diakui oleh Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Giri Nata, Sopyan Satari SE, MM, saat ditemui Radar Cirebon.

Sopyan, yang akrab disapa Opang, menjelaskan bahwa kebocoran disebabkan oleh usia pipa yang sudah melampaui batas ekonomi.

Bahkan, menurutnya, masih ada pipa peninggalan zaman Belanda yang masih digunakan, meski sudah tidak layak secara teknis.
“Kebocoran air saat ini masih di angka 35 persen,” ujarnya.

BACA JUGA:Sanksi Ciro Alves Ditambah, Persib Tak Bisa Lagi Pakai Jasanya hingga Akhir Musim

Untuk mengatasi hal tersebut, PDAM terus melakukan perbaikan secara bertahap.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah di kawasan Jalan Cipto, khususnya dari Lawang Abang hingga Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).

Di lokasi tersebut, sepanjang sekitar 300 meter pipa akan diganti karena mengalami kebocoran besar.
“Awalnya kami mendeteksi adanya kebocoran besar di bawah jembatan perempatan Lawang Abang. Setelah ditelusuri, ternyata aliran air bocor tersebut berasal dari jaringan pipa yang menuju ke arah Disnaker,” jelasnya.

Setelah kebocoran ditemukan, pihaknya segera melakukan perbaikan sekaligus revitalisasi pipa sepanjang 300 meter, dari Lawang Abang hingga Disnaker.

“Tingkat kebocoran air saat ini masih fluktuatif, sekitar 35 persen, dan akan terus kami teliti ulang karena dipengaruhi kondisi fisik pipa yang tua,” tambahnya.

BACA JUGA:Jasa Hercules ke Prabowo Dibongkar Mantan Anggota Tim Mawar Kopassus, Ternyata Ini yang Terjadi

Meski begitu, ia menegaskan bahwa revitalisasi dilakukan berdasarkan skala prioritas, terutama di titik-titik rawan kebocoran yang paling sering terjadi.

“Perbaikan dilakukan bertahap dengan mengutamakan daerah yang paling sering bocor. Mayoritas karena kondisi pipa yang sudah tua dan aus,” pungkasnya. (abd)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: