Daya Motor

Siti Badriah Sedang Terbaring Sakit di Taiwan, Sang Suami Minta Bantuan Lucky Hakim

Siti Badriah Sedang Terbaring Sakit di Taiwan, Sang Suami Minta Bantuan Lucky Hakim

Siti Badriah, seorang pekerja migran Indonesia asal Kabupaten Indramayu sedang terbaring sakit di Taiwan dan pihak keluarga minta bantuan Bupati Lucky Hakim untuk bisa dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Jangga, Kecamatan Losarang.-Istimewa -

INDRAMAYU, RADARCIREBON.COM – Perasaan kalut sedang dirasakan keluarga Siti Badriah, warga RT 01/RW 01, Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Pasalnya, Siti Badriah yang notabene seorang pekerja migran asal Indonesia, kini sedang terbaring sakit di Taiwan.

Sarjoni, suami Siti Badriah berharap agar istrinya bisa segera pulang ke Indramayu agar bisa mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat, sehingga bisa didampingi langsung oleh keluarga.

"Kami sangat berharap Siti Badriah bisa dirawat di rumah sakit Indonesia, biar kami dari keluarga bisa mendampingi selama proses pengobatan," ujar Sarjoni, Jumat 6 Juni 2025.

BACA JUGA:Manfaat Luar Biasa dari Mengonsumsi Lidah Maupun Otak Sapi

BACA JUGA:Pertamina Patra Niaga Regional JBB Pastikan BBM dan LPG Aman Selama Liburan Idul Adha

BACA JUGA:Perkuat Ekonomi Kerakyatan,bPemerintah Suntik Rp 3 Miliar untuk Kopdes Merah Putih

Dia mengatakan, saat ini Siti Badriah sangat membutuhkan perhatian dan dukungan moral dari keluarga.

Tapi, hal ini sangat sulit dilakukan, karena Siti Badriah dirawat di luar negeri tanpa pendamping.

Diketahui, Siti Badriah, berangkat ke Taiwan sebagai pekerja migran pada Maret 2024, kurang lebih setahun kemudian atau tepatnya pada Maret 2025 lalu, mulai mengalami sakit berat.

Menurut informasi dari dokter yang menangani, Siti kini menderita komplikasi penyakit serius infeksi otak, tumor, dan gangguan pada organ limpa.

Padahal, sebelum keberangkatan, Siti telah menjalani empat kali medical check-up dua di Indonesia dan dua di Taiwan dengan hasil dinyatakan sehat dan layak terbang.

“Kami sangat kaget ketika mendengar kabar kondisi Siti. Selama proses pemberangkatan, tidak ada indikasi penyakit apa pun. Bahkan medical check-up terakhir pun menyatakan ia fit,” Imbuh Sarjoni.

BACA JUGA:Penasaran! Inilah Sambutan KDM Saat Sholat Idul Adha di Desa Tonjong Cirebon, Isinya Daging Semua

BACA JUGA:Bertemu Skuad Timnas Indonesia, Begini Pesan Khusus Presiden Prabowo Subianto

Berdasarkan penjelasan medis yang diterima keluarga, gangguan di organ limpa menyebabkan sistem imun tubuh Siti melemah, hingga infeksi menyebar ke berbagai organ vital.

Limpa, yang seharusnya menyaring virus dan menjaga daya tahan tubuh, tidak berfungsi optimal, sehingga penyakit berkembang cepat dan membahayakan nyawa.

Selama menjalani perawatan di Taiwan, Siti sempat tak sadar di ruang rawat inap selama 18 hari.

Sarjoni bahkan harus menjual sepeda motor satu-satunya demi menutupi biaya pendampingan yang cukup tinggi, yaitu sekitar Rp500.000 per hari. “Kami sudah kirimkan Rp8 juta untuk biaya penjagaan lewat agensi,” ujarnya lirih.

Namun, besarnya biaya dan jauhnya jarak membuat keluarga merasa sangat terbatas dalam memberikan dukungan secara langsung.

Sarjoni mengaku bahwa keberadaan keluarga di sisi, Istrinya  sangat penting, bukan hanya untuk mengurus kebutuhan medis, tetapi juga untuk memberikan semangat dan kekuatan batin bagi istrinya.

BACA JUGA:Bertemu Skuad Timnas Indonesia, Begini Pesan Khusus Presiden Prabowo Subianto

“Kalau tidak ada keluarga yang mendampingi, semangat istri saya juga pasti menurun. Dukungan dari keluarga sangat penting untuk proses penyembuhannya,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Sarjoni pun mengajukan permohonan terbuka kepada pihak pemerintah, terutama kepada Bupati Indramayu, Pak Lucky Hakim, agar dapat memfasilitasi pemulangan istrinya ke Indonesia.

Ia berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pusat agar Siti bisa segera mendapatkan perawatan lebih lanjut di Tanah Air.

“Kami mohon bantuan dari Pak Bupati dan pemerintah agar Siti bisa dipulangkan. Ini soal nyawa. Kami ingin bisa mendampingi istri saya secara langsung selama proses pengobatan,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah melalui BP2MI, Kementerian Luar Negeri, dan pihak Kedutaan Indonesia di Taiwan bisa bergerak cepat. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase