Daya Motor

Jejak Sunyi Sang Wali: Kera, Doa, dan Penjaga di Petilasan Kalijaga

Jejak Sunyi Sang Wali: Kera, Doa, dan Penjaga di Petilasan Kalijaga

Juru Kunci Petilasan Kalijaga Cirebon, Raden Edi, saat ditemui Radar Cirebon di petilasan setempat.-Ade Gustiana-radarcirebon

RADARCIREBON.COM - Kera-kera di Petilasan Sunan Kalijaga bukan sekadar penghuni liar. Mereka bercermin, mencuri minuman manis, dan duduk tenang di antara para peziarah. Di balik tingkah laku mereka, ada sosok sepuh yang tak pernah lelah menjaga kesakralan situs ini.

DI Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, waktu seolah berjalan lebih lambat. Pepohonan tua menjulang, ranting-rantingnya menaungi pelataran dengan teduh.

Di antara desir angin sore, terdengar suara kera bersahutan. Sebagian bergelantungan di pagar batu, sebagian lagi duduk di bawah pohon, seakan mengamati manusia yang datang berziarah.

Petilasan Sunan Kalijaga bukan sekadar situs sejarah. Di sinilah jejak salah satu wali penyebar Islam di Tanah Jawa tetap hidup, dijaga dengan kesetiaan oleh seorang lelaki sepuh bernama Raden Ruhendi, akrab disapa Edi.

BACA JUGA:Wisata Religi di Cirebon Petilasan Sunan Kalijaga: Ritual, Kera, dan Kesetiaan Juru Kunci

Usianya telah 75 tahun. Rambutnya memutih, tertutup peci hitam. Langkahnya pelan tapi mantap.
Ia merupakan juru kunci generasi kelima, dan sudah 40 tahun mengabdikan diri di situs yang menjadi tujuan ribuan peziarah itu.

“Alhamdulillah, pengunjung selalu ada,” ujarnya pelan, Senin (13/10/2025).
Edi tak banyak bicara. Namun jejak kakinya yang berulang setiap hari dari gerbang depan hingga area makam sudah menjadi saksi kesetiaan yang panjang.

Setiap hari, selalu ada peziarah yang datang. Kadang satu mobil, kadang dua bus.
Pelataran utama mampu menampung sekitar seratus orang, sementara area dekat makam hanya setengahnya.

Namun pada akhir pekan atau masa liburan sekolah, jumlah pengunjung bisa mencapai 30 bus.
Mereka datang dari berbagai daerah dengan tujuan sama — berziarah dan bertawasul. Duduk bersila, berdoa, dan menunduk khidmat di depan makam sang wali.

BACA JUGA:Nama Asli Wali Songo, dari Sunan Gunung Jati sampai Sunan Kalijaga, Belum Banyak yang Tahu

Dulu, situs ini buka 24 jam. Namun kini tidak lagi. Fisik sang juru kunci tak sekuat dulu.
Gerbang kini dibuka pukul 07.00 WIB dan ditutup menjelang Magrib, kecuali ada peziarah yang meminta izin berdoa semalaman.

Ada satu hal unik di Petilasan Sunan Kalijaga: kera-keranya.
Mereka bukan sekadar penghuni liar. Mereka seperti bagian dari kisah yang hidup di tempat ini.
Edi kerap memperhatikan tingkah mereka. Menurutnya, kera-kera di petilasan ini memiliki perilaku menyerupai manusia.

Mereka senang bercermin, menyukai makanan manis, dan memilih makanan seperti manusia pula.
Kadang pengunjung terkekeh melihat seekor kera menatap pantulan dirinya di kaca spion motor atau botol air mineral.

Bagi sebagian orang, tingkah itu mungkin sekadar lucu. Namun bagi Edi, itu adalah pengingat — bahwa semua makhluk di sini hidup berdampingan di bawah berkah sang wali.

BACA JUGA:Kesaktian Sunan Kalijaga vs Prabu Siliwangi, Tanpa Pusaka Nyi Roro Kidul Kalah Telak

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait