131 Hektare Sawah di Cirebon Sudah Terapkan PMAAS
MODERNISASI PERTANIAN : Petani di Desa Cengkuang Kecamatan Palimanan sudah terapkan PMAAS. Tercatat hingga September 2026, 131 hektar sawah di Kabupaten Cirebon telah menerapkan model pertanian modern tersebut.-Khoirul Anwarudin-radarcirebon
PALIMANAN, RADARCIREBON.COM – Penerapan Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) di Kabupaten Cirebon terus diperluas. Hingga awal September 2026, sekitar 131 hektare lahan sawah telah menerapkan sistem pertanian modern tersebut.
Pemerintah Kabupaten Cirebon menargetkan penerapan PMAAS dapat diperluas hingga 8.000 hektare di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya mengatakan bahwa penerapan PMAAS saat ini masih dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah. Program tersebut mulai berjalan sejak Juli dan akan terus dikembangkan hingga Oktober.
“Baru 131 hektare. Kita rencanakan di Cirebon ada 8.000 hektare,” ujarnya saat pelaksanaan demplot PMAAS di Desa Cengkuang, Kecamatan Palimanan, Senin (7/9/2026).
BACA JUGA:Kebakaran Hutan Melanda 3 Blok di Gunung Ciremai, Api Belum Padam
Ia menjelaskan, penerapan PMAAS tidak dapat dilakukan di sembarang lahan. Salah satu pertimbangan utama adalah ketersediaan air karena sistem tersebut membutuhkan lahan sawah dengan dukungan irigasi yang memadai.
Hal itu menjadi perhatian karena penerapan program berlangsung di tengah musim kemarau. Karena itu, lahan yang dipilih diprioritaskan pada sawah yang memiliki sumber air dan jaringan irigasi sehingga budidaya dapat berjalan optimal.
Penerapan PMAAS juga membawa perubahan dari pola budidaya padi konvensional. Salah satunya melalui sistem tanam benih langsung atau tabela, yakni benih langsung ditanam di lahan tanpa melalui proses persemaian dan pindah tanam.
Dalam sistem tersebut, kebutuhan benih mencapai sekitar 70 kilogram per hektare. Jumlah itu lebih besar dibandingkan pola konvensional yang umumnya membutuhkan sekitar 25–30 kilogram benih per hektare.
BACA JUGA:Yamaha Grand Filano Run The City Hadir di Batukaras, Padukan Semangat Running dengan Lifestyle Pesisir
Kebutuhan benih tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian. Untuk setiap satu hektare lahan PMAAS, pemerintah menyediakan sekitar 70 kilogram benih.
Sementara dari sisi pemupukan, kebutuhan input juga lebih tinggi. Sistem PMAAS membutuhkan sekitar 7 kuintal urea dan sekitar 4 kuintal pupuk Phonska per hektare.
Meski membutuhkan input lebih besar, sistem tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi hingga 10 ton per hektar. Adapun rata-rata produksi padi di Kabupaten Cirebon saat ini masih berada pada kisaran 5–6 ton per hektare.
Direktur Wilayah Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat Kementerian Pertanian, Dr. Detia Tri Yunandar, SP, MSi, mengatakan perluasan PMAAS merupakan bagian dari program nasional untuk mendorong modernisasi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
BACA JUGA:Rayakan Hari Pelanggan Nasional Bersama Yamaha, Hadirkan Kejutan Bentuk Apresiasi
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penerapan teknologi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, hingga pemerintah desa.
“Dengan kolaborasi yang kuat, tujuan atau target dari program ini bisa terlaksana,” ujar Detia.
Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari penerapan pertanian modern yang tengah didorong pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian.
"Program PMAAS ini merupakan program nasional yang merupakan arahan langsung dari Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian. PMAAS ini merupakan penerapan pertanian modern dengan target minimal produktivitas 10 ton per hektare," ujar Detia.
BACA JUGA:Tampil Melesat, Astra Honda Raih Podium dan Poin Penting di ARRC Sepang
Ia mengatakan, penerapan program serupa di sejumlah daerah telah menunjukkan hasil yang memenuhi target. Karena itu, pelaksanaan PMAAS di Kabupaten Cirebon juga akan terus diupayakan agar mampu mencapai sasaran produktivitas yang telah ditetapkan.
Detia menuturkan, peningkatan produktivitas tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan hasil produksi di tingkat petani. Produksi padi yang meningkat juga diharapkan berkontribusi terhadap ketersediaan stok beras dan keberlanjutan pangan nasional.
"Tujuan utamanya, seperti yang disampaikan Bapak Menteri, adalah untuk peningkatan kesejahteraan petani. Dengan meningkatnya produktivitas dan produksi, ini akan ikut berkontribusi terhadap stok beras dan keberlanjutan pangan," katanya.
Menurutnya, keberhasilan PMAAS membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. BRMP Jawa Barat bersama Direktorat Jenderal di Kementerian Pertanian akan berkolaborasi dengan Dinas Pertanian, penyuluh pertanian, BPP Palimanan, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa dalam pelaksanaan program tersebut.
BACA JUGA:Kasus Dugaan Perundungan SD Santa Maria Cirebon Naik ke Proses Hukum, Korban Jalani Visum
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat pendampingan di lapangan sehingga penerapan teknologi pertanian modern dalam program PMAAS berjalan sesuai target.
"Insyaallah, dengan kolaborasi yang kuat, tujuan atau target dari program ini bisa terlaksana," ujarnya. (awr)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

