Artinya, dengan kapasitas produksi padi tersebut, terdapat potensi perputaran ekonomi dari aktivitas pertanian di Blok Walahar sekitar Rp500 juta hingga Rp600 juta lebih pertahun dengan asumsi harga gabah Rp6500 perkilogram.
"Jika pertanian ini digarap dengan baik, setidaknya bisa mensejahterakan petani," terang Dedi.
Untuk mendukung peningkatan produksi pertanian, Pemerintah Desa Waled Desa tidak hanya mengeluarkan kebijakan pengurasan saluran irigasi.
Tapi, kebijakan penunjang lainnya pun digulirkan, seperti penyediaan lahan untuk para petani lokal dengan memanfaatkan tanah aset desa, seperti bengkok dan titisara.
BACA JUGA:Sikapi Rokhmin Dahuri, Raden Hamzaiya: Jalan Masih Rusak, Bisa-bisanya Bahas Provinsi Cirebon Raya
BACA JUGA:Saluran Irigasi Primer Rusak Karena Longsor, Petani di Gebang Ilir Cirebon Menjerit
BACA JUGA:Terpilih Jadi Ketua KONI Periode 2025-2029, Berikut Upaya Handru Majukan Olahraga di Kota Cirebon
"Untuk penyewaan lahan, kami prioritaskan warga lokal, agar petani di Desa Waled Desa punya kesempatan bercocok tanam," terangnya.
Kemudian, agar hasil produksi pertaniannya juga meningkat, Pemerintah Desa mengembangkan rumah pupuk kompos dengan menjalin kerja sama dengan peternak sapi.
"Ini demi mendukung program pertanian berkelanjutan, agar petani juga tidak bergantung pada pupuk kimia, sehingga sawah pun tidak mengandung banyak residu," imbuhnya.
Dedi berharap, dengan program yang telah digulirkan, Desa Waled Desa bisa membantu meningkatkan kesejahteraan petani demi masa depan yang lebih baik.
"Kami sebagai pelayan masyarakat akan terus mengawal dan membantu petani untuk sejahtera," pungkasnya. (*)