“Kami pandang serius. Kami tidak bertolak ansur dengan tindakan sebegini,” ujar Joehari kepada awak media usai membuka Liga Wanita Nasional 2025.
Pihak Malaysia menilai tindakan tersebut bukan sekadar ekspresi emosional suporter, tetapi dianggap sebagai penghinaan terhadap simbol negara.
Mereka mendesak AFF dan AFC untuk memberikan sanksi tegas kepada pihak penyelenggara atau asosiasi sepak bola Indonesia, jika terbukti lalai dalam mengendalikan perilaku suporter.
Namun di sisi lain, masyarakat Indonesia tidak tinggal diam.
BACA JUGA:Bisa Cuan Tanpa Modal? Ini 5 Aplikasi Penghasil Uang Gratis Terbaru Bulan Juli 2025!
Banyak warganet dan pengamat sepak bola mengungkit kembali insiden serupa yang terjadi pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, di mana bendera Indonesia dicetak terbalik di buku panduan resmi yang dibagikan kepada tamu dan delegasi.
Lebih parah lagi, pada SEA Games 2023 di Kamboja, insiden serupa terjadi saat panitia mengibarkan bendera Merah Putih dalam posisi terbalik.
Berbeda dengan kasus di GBK yang dilakukan oknum suporter, dua insiden tersebut dilakukan langsung oleh pihak panitia penyelenggara.
Namun kala itu, pemerintah Indonesia memilih untuk menyikapi secara diplomatis tanpa membawa masalah ke level AFC atau AFF.
BACA JUGA:Bisa Cuan Tanpa Modal? Ini 5 Aplikasi Penghasil Uang Gratis Terbaru Bulan Juli 2025!
Bahkan Menpora saat itu memilih untuk menyampaikan protes resmi secara tertulis, bukan dalam bentuk sanksi atau kecaman terbuka.
Hal ini membuat sebagian netizen merasa bahwa FAM terlalu reaktif dan kurang bercermin pada sejarah.
Banyak yang menilai bahwa kejadian di GBK adalah bentuk balasan emosional dari suporter yang masih menyimpan luka lama.
Meski demikian, tetap saja tindakan menghina simbol negara, siapa pun pelakunya, bukanlah hal yang patut dibenarkan dalam dunia olahraga.
BACA JUGA:Mau Dapat Saldo Dana Gratis? Cek Link Dana Kaget Dan Cara Mendapatkannya!
Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan FAM ini.