KABAR BAIK! Tenaga Honorer Majalengka Bakal Diusulkan jadi PPPK

Senin 11-08-2025,11:06 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Yuda Sanjaya

Hingga kini, Ade masih tercatat sebagai tenaga honorer kategori R4 non database BK. 

Status yang membuatnya terpinggirkan dari prioritas pengangkatan sebagai aparatur sipil negara (ASN).

"Saya datang setiap hari bukan karena gaji atau status, tapi karena saya merasa ini adalah panggilan," ujar Ade.

BACA JUGA:Honorer R2 dan R3 Kota Cirebon Adu Data dengan BKPSDM Demi Kepastian Status PPPK 2024

Pernyataan tersebut disampaikan Ade dalam sebuah audiensi yang dihadiri oleh sejumlah tenaga honorer kategori R4 dari berbagai wilayah di Majalengka.

Mereka menyuarakan satu tuntutan yang sama: kejelasan status dan masa depan. Harapan kini tertuju pada afirmasi terakhir dari Presiden Joko Widodo, menjelang akhir masa jabatannya pada akhir tahun ini.

"Harapannya, tahun ini ada afirmasi terakhir dari Bapak Presiden untuk legalitas kami yang selama ini telah mengabdi," lanjut Ade.

Meski pernah mendapat tawaran pekerjaan di tempat lain, Ade memilih bertahan. Ia mengaku, selain karena kecintaannya terhadap profesi, alasan utama lainnya adalah keinginan untuk tetap dekat dengan keluarga.

"Sebenarnya ada tawaran kerja di tempat lain, tapi istri tidak mau saya jauh. Katanya, lebih baik hidup sederhana asal tetap dekat dengan keluarga," tuturnya sambil tersenyum.

Kini, Ade menjadi tulang punggung keluarga dengan dua anak, dan satu lagi yang akan segera lahir. 

Di tengah keterbatasan, ia tetap bersyukur, meski penghasilannya sebagai tenaga honorer seringkali tidak menentu. 

Honor yang diterimanya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan.

"Kalau bicara cukup atau tidak, jelas tidak cukup. Tapi saya tetap bersyukur. Pengabdian ini bukan soal uang semata," katanya.

Salah satu momen paling berkesan dalam pengabdiannya adalah ketika pandemi Covid-19 melanda. 

Saat banyak orang memilih berdiam di rumah, Ade dan rekan-rekannya justru berada di garis depan. Mereka menyuntikkan vaksin, menangani pasien, hingga merujuk kasus darurat ke rumah sakit rujukan.

"Selama Covid, kami hampir tidak pulang. Kami berjuang melayani masyarakat meskipun risikonya besar. Saat orang lain di rumah, kami justru keluar setiap hari. Itu masa yang berat, tapi menjadi bagian penting dalam hidup saya," kenangnya.

Kategori :