"Sekarang lagi proses evakuasi. Ini kejadian baru. Padahal tempat kami humayan jauh dari hutan padahal lokasinya," tutur Iha.
Dia berharap proses evakuasi berjalan dengan lancar dan macan tutul tersebut dapat dikembalikan ke habitat atau setidaknya dilakukan pengamanan.
Iha mengaku heran karena macan tutul tersebut bisa mencapai area balai desa yang relatif cukup banyak penduduk dan jauh dari hutan.
"Kalau ke hutan biasa paling 5 kilometer, cuma ada sekat karena sungai di sana," tutur dia.
BACA JUGA:Trio Macan Tutul Penghuni Asli Gunung Ciremai Terekam Camera Trap, Begini Kondisinya
Seperti diketahui, wilayah timur Kabupaten Kuningan merupakan kawasan hutan dan banyak yang belum banyak dijamah oleh manusia.
Kawasan hutan tersebut diantaranya berstatus produksi maupuni hutan lindung.
Area ini menjadi rumah bagi satwa predator seperti macan tutul jawa yang belakangan ini, semakin sering turun ke permukan warga.
Biasanya, macan tutul memperlebar area perburuan mangsa ketika musim kemarau. Mengingat makanan makin sulit di dapat di dalam area rimba.
BACA JUGA:3 Macan Tutul Asli Gunung Ciremai Terpantau Camera Trap, Bukan Rasi, Bukan Slamet Ramadhan
Sebelumnya, kejadian macan tutul masuk ke permukiman juga terjadi di Desa Gunung Manik, Kecamatan Ciniru.
Kemudian ada kejadian serupa di Kecamatan Salajambe, di mana macan tutul mendekati area permukiman warga.
Direktur Yayasan Koorders Lestari Indonesia (YKLI) Cabang Jawa Barat, Galang Aulia Prasetya dalam sebuah wawancara dengan radarcirebon.com menyebutkan, ada banyak faktor dari satwa predator masuk ke permukiman warga.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian. Sehingga didapatkan kesimpulan yang berguna untuk konservasi satwa dan perlindungan masyarakat sekitar hutan.