Para nelayan memasak kepala ikan manyung terutama pada musim paceklik, saat penghasilan laut menurun.
Kepala manyung yang dianggap remeh mampu menyelamatkan warga dari kelaparan.
Pengolahan Pindang Gombyang Manyung
Proses memasak ikan perlu dilakukan dengan hati-hati supaya masakan tidak berbau amis atau anyir. Pada kepala ikan ada sekumpulan lendir yang menempel pada ingsang.
Bagian tersebut harus dibersihkan dengan benar, karena lendir itu akan mempengaruhi rasa ikan secara keseluruhan.
Setelah dibelah menjadi dua dan dibersihkan, ikan direbus selama dua jam dengan ketentuan airnya diganti sebanyak dua kali untuk menghilangkan aroma amis.
Setelahnya, bambu yang antara lain terdiri dari daun salam, sereh, kunyit, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, dan garam dimasukkan ke dalam masakan. Kemudian ikan direbus hingga daging dan kulitnya terlepas dari tulangnya.
Kepala ikan yang telah matang disajikan dalam mangkuk jumbo dengan kuah melimpah hampir tumpah. Hidangan tersebut ditaburi irisan tomat dan irisan daun bawang, aroma ikan langsung menggugah selera makan.
Pindang Gombyang Manyung memiliki cita rasa gurih dengan bumbu rempahnya dan ada rasa sedikit manis.
Selain itu, yang tidak kalah menantang adalah saat penikmat pindang gombyang manyung mengelupas bagian-bagian ikan yang tersembunyi di antara tulang kepala ikan yang strukturnya tersembunyi.
Untuk mengambilnya, ada yang perlu mencukil dengan garpu. Jika belum berhasil, bagian ikan yang diinginkan dapat disedot dan dihisap tulang-tulangnya.
Makanan khas ini akan selalu dirindukan, terutama bagi yang pernah mencicipinya.
Bagi Anda yang ingin mencicipi langsung, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi Indramayu dan rasakan sendiri kelezatan Pindang Gombyang Manyung yang melegenda!
*) Ditulis oleh Muhamad Hijar Ardiansah, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang sedang PPL/Magang di Radar Cirebon.