BACA JUGA:KDM Ingin Stop Setoran ke BIJB Kertajati, Tukar dengan Bandara Husein Sastranegara
Melalui Broken Strings, Aurelie turut meluruskan berbagai rumor lama tentang kehidupannya, termasuk isu pernikahan dan anak, yang selama ini beredar tanpa pemahaman konteks trauma yang ia alami.
Buku ini menegaskan bahwa korban grooming tidak pernah bersalah atas kekerasan yang menimpanya.
Namun Broken Strings tidak berhenti pada luka. Buku ini juga merupakan catatan perjalanan penyembuhan.
Aurelie menuliskan bagaimana ia perlahan belajar menerima dirinya sendiri, memaafkan masa lalu, dan keluar dari siklus trauma—sebuah proses yang tidak instan, penuh rasa sakit, namun sangat manusiawi.
Dukungan keluarga digambarkan sebagai fondasi penting yang membantunya bertahan dan bangkit.
Di bagian akhir, Aurelie hadir bukan lagi sebagai korban semata, melainkan sebagai suara harapan. Ia menunjukkan bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan bentuk keberanian.
“Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku. Dan saat tahu kisah ini bisa menolong orang lain, rasanya seperti keajaiban yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun,” tulis Aurelie di penutup bukunya.
Saat ini, pembaca dapat mengakses 24 bab Broken Strings secara gratis melalui tautan yang dibagikan di Instagram @aurelie, baik versi bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
Buku ini menjadi pengingat bahwa luka yang dulu dianggap aib, bisa menjelma menjadi cahaya bagi orang lain.
Berikut ini adalah link gratis baca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Broken Strings Versi Bahasa Indonesia (Broken Strings versi Bahasa Indonesia)
Broken Strings versi Bahasa Inggris (Broken Strings versi Bahasa Inggris)