Crossing menjadi senjata utama, namun kemampuan finishing juga bukan kelemahan baginya.
BACA JUGA:Duh! 3 Warga Cirebon Ditangkap di Surakarta, Kasus Tabrak Lari dan Penculikan
BACA JUGA:Tembus 101 Emas! Kontingen Indonesia Lampaui Target di ASEAN Para Games 2025 Thailand
Selama membela PSG, Kurzawa beberapa kali mencetak gol dari situasi open play, muncul sebagai pemain kejutan di area berbahaya.
Karakter semacam ini relatif jarang dimiliki oleh bek kiri, terlebih di kompetisi domestik seperti Liga 1.
Meski demikian, Kurzawa juga bukan pemain tanpa catatan. Ia bukan bek defensif konservatif. Ketika terlalu aktif membantu serangan, area di sisi kiri kerap meninggalkan ruang.
Di level Eropa, performa terbaiknya muncul saat ia berada dalam sistem yang solid: didukung bek tengah kiri yang sigap melakukan cover serta gelandang bertahan yang disiplin menjaga transisi.
BACA JUGA:Persib vs PSBS Biak Malam Ini, Bojan Hodak: Jika Tak 100 Persen, Bisa Berbahaya
BACA JUGA:Tembus 101 Emas! Kontingen Indonesia Lampaui Target di ASEAN Para Games 2025 Thailand
Jika dikontekstualisasikan dengan Liga 1 Indonesia, situasinya justru bisa lebih menguntungkan.
Tempo permainan Liga 1 relatif lebih lambat dibanding kompetisi Eropa.
Banyak tim memilih bermain dengan blok rendah, sementara Persib Bandung dikenal sebagai tim yang dominan dalam penguasaan bola dan sering menyerang dari berbagai sisi.
Dalam skema seperti itu, Kurzawa berpotensi menjadi senjata penting. Saat jalur kanan buntu, aliran bola bisa dimaksimalkan ke sisi kiri.
Di sana, Kurzawa dapat memberikan variasi lewat overlap, umpan silang akurat, atau pergerakan cut-inside yang membuka ruang bagi penyerang.
Dari segi teknik, pengalaman, serta pengambilan keputusan, Kurzawa berada di atas rata-rata bek kiri Liga 1.
Namun satu hal krusial perlu diperhatikan: ia tidak bisa diperlakukan sebagai bek kiri konvensional yang dituntut bertahan terus-menerus tanpa perlindungan.