BACA JUGA:Tinggal Enam Korban Longsor Cisarua yang Belum Ditemukan
BACA JUGA:Emil Audero Jadi Sasaran Flare Suporter Inter, Marotta Bereaksi Keras
Beban tersebut menjadi pertimbangan berat ketika pembeli semakin jarang datang.
“Kalau tidak ada pembeli, pedagang pasti berpikir ulang untuk bertahan. Pengeluaran tetap jalan,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Yogi, pedagang lainnya. Ia menilai salah satu penyebab utama sepinya Sentra Batik Trusmi adalah masih maraknya PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Fatahillah.
Kondisi ini membuat pengunjung lebih memilih berbelanja di luar kawasan tanpa harus masuk ke pusat kuliner dan pasar batik.
“Dari sekitar 50 pedagang di dalam, sekarang tinggal 12. Sementara PKL di luar kawasan, dari Jalan H Abas sampai gapura, awalnya sekitar 206 pedagang, sekarang masih ada 112,” jelas Yogi.
Para pedagang berharap pemerintah daerah dapat mengembalikan lokasi PKL ke Jalan Syekh Datul Kahfi agar aktivitas tidak terpusat di Jalan Fatahillah.
Menurut mereka, penumpukan PKL di jalur utama justru memecah arus pengunjung.
“PKL di Jalan Fatahillah itu buka dari pagi sampai pagi lagi. Akhirnya orang malas masuk ke dalam kawasan,” kata pedagang seblak dan tahu sumedang tersebut.
Selain penataan, minimnya promosi juga menjadi sorotan. Pedagang menilai Sentra Batik Trusmi kehilangan daya tarik karena tidak lagi dihidupkan dengan agenda rutin seperti event seni, musik, atau festival kuliner.
“Dulu hampir setiap minggu ada acara. Sekarang jarang sekali, bahkan hampir tidak ada,” keluhnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera turun tangan.
Perbaikan fasilitas, penataan PKL, serta promosi yang konsisten dinilai menjadi kunci agar Sentra Batik Trusmi kembali hidup dan menjadi destinasi unggulan Cirebon.
Sebagai informasi, pengelolaan pedagang di dalam kawasan Sentra Batik Trusmi berada di bawah kewenangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Cirebon.