Antisipasi Lupa Niat, Apa Solusinya?
BACA JUGA:5 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Otak, Bantu Tingkatkan Daya Ingat dan Redakan Stres
BACA JUGA:Waspada! Kebiasaan Makan Berlemak Diam-Diam Rusak Otak, Ini 6 Dampak Seriusnya
Dalam praktiknya, kondisi lupa atau ketiduran kerap terjadi. Apalagi di bulan Ramadhan, aktivitas ibadah bertambah, seperti tarawih hingga tadarus. Lalu bagaimana jika seseorang benar-benar lupa berniat?
Sebagian ulama memberikan solusi kehati-hatian (ihtiyath) dengan mengikuti pendapat Mazhab Maliki.
Dalam pandangan mazhab yang dinisbatkan kepada Imam Malik ini, niat puasa Ramadhan boleh dilakukan satu kali pada malam pertama untuk keseluruhan bulan.
Alasannya, puasa Ramadhan dipandang sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh dan tidak terpisah-pisah.
Pendapat ini cukup dikenal di Indonesia, meskipun mayoritas masyarakat mengikuti Mazhab Syafi’i.
Salah satu ulama yang menjelaskan praktik ini adalah KH A Idris Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Dalam karya beliau, Sabil al-Huda, disebutkan bahwa membaca niat sebulan penuh pada malam pertama Ramadhan dapat menjadi langkah antisipasi jika suatu saat lupa berniat di malam berikutnya.
Penjelasan senada juga disinggung oleh Syaikh Imam al-Qulyubi dalam kitab Hasyiyah al-Qulyubi.
Beliau menerangkan bahwa dianjurkan pada malam pertama Ramadhan untuk berniat puasa satu bulan penuh, agar dapat memanfaatkan pendapat Imam Malik ketika suatu hari lupa memperbarui niat.
Bukan Berarti Tak Perlu Niat Harian
Perlu digarisbawahi, mengikuti pendapat Imam Malik bukan berarti meninggalkan kebiasaan berniat setiap malam.
Umat Islam tetap dianjurkan memperbarui niat harian sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i.
Niat sebulan penuh hanya berfungsi sebagai langkah darurat apabila benar-benar lupa atau tertidur hingga melewati waktu Subuh.