RADARCIREBON.COM - Bagi umat muslim, bulan Ramadan bukan saja tentang puasa, tetapi juga waktu untuk berbuat baik kepada sesama. Di Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, semangat itu terwujud dalam sepanci besar Bubur Harisah yang setiap tahun mengepul dari dapur keluarga Bayasut.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak didirikannya Masjid As Syafii Bayasut pada sekitar tahun 1918. Tradisi itu dirintis oleh Syekh Muhammad Islam Bayasut. Hingga kini, kebiasaan tersebut tetap dijaga keluarga. Pada Ramadan 2026, estafet itu berada di tangan Abdullah bersama saudaranya, Fatimah.
Ditemui Radar Cirebon, Jumat (20/2/2026), Abdullah menuturkan bahwa tradisi membuat dan membagikan Bubur Harisah merupakan amanah keluarga yang tak pernah terputus. “Ini warisan dari kakek kami. Kami hanya meneruskan supaya tetap ada setiap Ramadan,” ujarnya.
Menurut Abdullah, sejarah tradisi pembagian Bubur Harisah tak lepas dari keberadaan Stasiun Prujakan. Pada masa lalu, kawasan Panjunan menjadi titik singgah para musafir dari Bandung, Jakarta, maupun dari arah Jawa Tengah.
BACA JUGA:Polsek Ligung Ungkap Curat di Desa Beber, Tiga Pelaku Curanmor Diamankan Kurang dari 24 Jam
Mereka biasanya beribadah dan beristirahat di Masjid As Syafii Bayasut sembari menunggu keberangkatan kereta menuju kota tujuan.
Melihat banyak musafir yang kekurangan bekal saat bulan puasa, Syekh Muhammad Islam Bayasut tergerak membuat bubur berbahan dasar beras, daging kambing, dan rempah-rempah untuk dibagikan secara cuma-cuma saat berbuka.
Kini, setiap hari selama Ramadan, keluarga Bayasut memasak sekitar 5 kilogram beras dan 1 kilogram daging kambing. Dari proses itu, dihasilkan kurang lebih 100 porsi Bubur Harisa per hari.
Sementara itu, bumbu yang dipakai untuk membuat Bubur Harisah antara lain santan, sereh, daun salam, daun pandan, kapulaga, cengkeh, pala, kayu manis, ketumbar, lada, jinten putih, adas, dan beberapa bahan pelengkap lainnya.
BACA JUGA:Gagal Beraksi Saat Magrib, Dua Pelaku Curanmor Diamankan Warga di Jatiwangi Majalengka
Biasanya, kata Abdullah, ia memasak sejak pukul 10.00 pagi. Prosesnya dimulai dari mencuci beras dan menyiapkan bumbu rempah-rempahnya. Setelah itu, memasak beras pada sebuah wadah panci besar.
Sementara di panci yang lain, ia juga merebus daging kambing. “Setelah airnya menyusut, baru kemudian ditambahkan santan dan bumbu rempah-rempahnya, sama sekalian masukin daging yang sudah empuk, lalu diaduk sampai matang," ujarnya.
Setelah sekitar 3-4 jam dimasak, Bubur Harisah pun siap dibagikan. Biasanya bubur itu dibagikan kepada tetangga, tukang becak, tukang ojek, atau orang orang yang kebetulan singgah ke Masjid As Syafii.
Tidak jarang, beberapa orang datang jauh-jauh demi menikmati Bubur Harisah. “Ada yang jauh-jauh datang dari Indramayu, katanya cuma buat ngerasain rasanya Bubur Harisah, sambil ngabuburit nunggu buka," ujarnya.
BACA JUGA:Tips Merawat Sepeda Motor di Musim Hujan