CIREBON, RADARCIREBON.COM – Jejak sejarah penyebaran Islam di Kota Cirebon masih berdiri kokoh hingga kini.
Di tengah denyut modernitas kota, Masjid Merah Panjunan menjadi saksi bisu kuatnya akulturasi budaya sejak abad ke-15.
Berlokasi di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon masjid yang dibangun pada tahun 1480 ini tampil mencolok dengan dominasi bata merah ekspos yang menyelimuti hampir seluruh bangunannya.
Warna merah khas tersebut menjadikannya berbeda dari masjid pada umumnya.
BACA JUGA:Masjid Merah Panjunan: Denyut Sejarah dan Ibadah yang Kian Hidup Saat Ramadan
BACA JUGA:Sambut Imlek 2577, Klenteng di Cirebon Berhias Lampion dan Jejak Sejarah Ratusan Tahun
Tokoh masyarakat setempat, Isnain Kusharyanto, menyebut Masjid Merah Panjunan sebagai salah satu yang tertua di Cirebon.
“Masjid ini termasuk yang paling awal berdiri di Kota Cirebon. Dibangun tahun 1480 oleh Pangeran Panjunan atau Syekh Syarif Abdurrahman bersama adik iparnya, Sunan Gunung Jati,” ujarnya, Sabtu 21 Februari 2026.
Syekh Syarif Abdurrahman dikenal sebagai ulama keturunan Arab yang menetap di kawasan Panjunan.
Pada masa itu, wilayah tersebut menjadi permukiman para perantau Arab dan Tionghoa yang kini populer dengan sebutan Kampung Arab.
Akulturasi budaya tampak jelas dari detail arsitekturnya. Gapura bergaya candi bentar mengingatkan pada arsitektur Jawa kuno.
BACA JUGA:Masjid Berusia 145 Tahun di Cirebon Terancam Ambruk, Pondasi Hilang Diterjang Banjir Cipager
Di dinding bata merahnya, tertanam piring-piring porselen asli dari Tiongkok dan Eropa yang menjadi ornamen unik sekaligus peninggalan bersejarah.
“Motif piringnya sama seperti yang ada di keraton dan di Makam Sunan Gunung Jati. Itu asli dari Tiongkok dan ditanam langsung di dalam bata,” jelas Isnain.