CIREBON, RADARCIREBON.COM - Cap Go Meh merupakan salah satu tradisi dalam budaya Tionghoa yang memiliki makna mendalam.
Bukan hanya sebagai penutup Imlek, tapi juga sebagai momen untuk bersyukur, berbagi, dan mempererat kebersamaan.
Hal ini dikatakan Wakil Walikota Cirebon Hj Siti Farida Rosmawati SPdI disela-sela acara Malam Kesenian Cap Go Meh tahun 2577 Selasa malam (3/3/2026) di Vihara Welas Asih
Lebih jauh Wakil Walikota menyampaikan dirinya hadir di Perayaan malam Cap Go Meh ini bukan bukan hanya sebagai Wakil Wali Kota, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Kota Cirebon.
BACA JUGA:Sport Center Indramayu Memprihatinkan, Anggaran Rp200 Miliar Dialihkan, Revitalisasi Tertunda
Cap Go Meh, kata Wawali, merupakan acara penutup dalam rangkaian peringatan Imlek, tetapi bagi saya ini bukan sekedar seremoni, tapi semangat membuka komitmen baru, bekerja lebih keras, menjaga harmoni, dan merawat persaudaraan dalam keberagaman.
“Kita juga tidak boleh lupa, ada api perjuangan yang pernah dinyalakan oleh Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Atas jasa beliau lah hak-hak saudara-saudara Tionghoa untuk merayakan identitasnya secara terbuka dikembalikan,” ujar wanita yang akrab disapa Rida.
Pada hari ini, kata Rida, tugas kita semua menjaga agar api keteladanan itu tetap menyala di Kota Cirebon.
Pemerintah Kota Cirebon berkomitmen memastikan setiap warga, apapun latar belakangnya, merasa aman, dihormati, dan dilibatkan dalam pembangunan.
BACA JUGA:Fiskal Kuningan Turun ke Klaster Terendah, Tunjangan DPRD Dipangkas Drastis
“Dari Vihara Dewi Welas Asih ini, semoga semangat kebersamaan dan keberagaman memancar ke seluruh penjuru Kota Cirebon,” tandasnya
Rida menyampaikan bahwasannya Vihara Dewi Welas Asih sudah menjadi simbol bagaimana masyarakat kita mampu mengelola perbedaan dengan sangat dewasa..
Sejarah panjang kota Cirebon mengajarkan kepada kita semua bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan hasil dari komunikasi sosial yang terus-menerus dijaga di ruang-ruang publik.
Dirinya menyadari bahwa modal sosial berupa toleransi adalah fondasi utama bagi stabilitas pembangunan. Tanpa adanya harmoni di tengah masyarakat, kebijakan pembangunan sesempurna apa pun akan sulit diimplementasikan.
BACA JUGA:GRESEK (Grebek Sekre) Vol. 2 Hangatkan Silaturahmi Ramadan Bersama Komunitas NTCI Bandung
Untuk itu, acara ini perlu kita maknai sebagai upaya bersama dalam memfasilitasi setiap entitas budaya untuk mengekspresikan diri.
Rida menegaskan bahwa Pemerintah Kota Cirebon berkomitmen untuk terus memperkuat narasi pembangunan yang partisipatif. Karena kita ingin setiap sudut kota ini, termasuk kawasan cagar budaya, menjadi ruang dialog di mana pemerintah dan warga bisa saling bersinergi.