Untuk memperkuat tata niaga industri genteng, Kadin Majalengka juga mendorong pembentukan koperasi perajin genteng yang akan berperan sebagai agregator produksi.
Melalui koperasi tersebut, pembelian genteng dari para perajin akan dipusatkan sehingga memudahkan pengelolaan distribusi, pengendalian harga, serta menjaga standar kualitas produk.
Koperasi ini juga diharapkan mampu menggantikan peran asosiasi lama yang sebelumnya tidak lagi aktif dalam mengoordinasikan para perajin genteng di wilayah tersebut.
Dari sisi kapasitas produksi, Suryanatanagara memastikan industri genteng di Majalengka memiliki kemampuan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini, total kapasitas produksi genteng di daerah tersebut diperkirakan mencapai hingga satu juta unit per hari.
Dengan target pembangunan sekitar 3.000 unit rumah di kawasan Ciayumajakuning sepanjang tahun 2026, kebutuhan genteng diperkirakan dapat terpenuhi tanpa kendala berarti.
BACA JUGA:Kebakaran Hebat di Baleraja Indramayu, Rumah Warga Ludes Kerugian Capai Rp300 Juta
“Jika rata-rata satu rumah membutuhkan ribuan genteng, potensi serapan pasar dari sektor perumahan ini menjadi peluang besar bagi pelaku industri kecil dan menengah di Majalengka,” ujarnya.
Meski demikian, Suryanatanagara mengakui industri genteng di Majalengka masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Salah satunya berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor tersebut serta minimnya regenerasi perajin muda.
Ia menyebutkan banyak tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di industri genteng beralih ke sektor manufaktur modern yang dinilai menawarkan penghasilan lebih stabil.
Sebagai langkah antisipasi, Kadin Majalengka mendorong para pengembang yang berinvestasi di wilayah tersebut untuk mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung modernisasi peralatan produksi bagi para perajin genteng.
BACA JUGA:Operasional Pembangkit Stabil, Cirebon Power Fokus Energi Nasional dan CSR 2026
Salah satu opsi yang diusulkan adalah pengadaan mesin cetak genteng berbasis dinamo otomatis yang dapat meningkatkan efisiensi serta produktivitas produksi.
“Modernisasi sangat penting agar industri genteng tidak tertinggal. Jika produktivitas meningkat dan pasar sudah jelas, generasi muda akan melihat bahwa industri ini masih memiliki prospek yang menjanjikan,” kata Suryanatanagara.
Melalui kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan sektor pengembang perumahan, Kadin Majalengka optimistis industri genteng lokal dapat terus bertahan dan berkembang. Selain menjaga warisan industri tradisional, langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. (bae)