Banyak pedagang yang menjual makanan berbuka menggunakan kemasan plastik, styrofoam, maupun kantong sekali pakai.
BACA JUGA:Film Na Willa Gelar Nonton Duluan di 22 Kota, Cirebon Kebagian di CSB XXI
BACA JUGA:Kasus Campak di Jabar Meningkat, Warga Diimbau Waspada Saat Mudik Lebaran 2026
Kondisi ini menyebabkan frekuensi kendaraan pengangkut sampah dari berbagai wilayah di Kota Cirebon meningkat cukup tajam dibanding hari biasa.
“Biasanya dalam satu lokasi pengangkutan hanya satu rit truk. Tapi selama Ramadan bisa sampai dua sampai tiga rit karena sampahnya bertambah,” jelasnya.
Kapasitas TPA Kopiluhur Semakin Terisi
TPA Kopiluhur sendiri memiliki luas area sekitar 14 hektare. Dari total luas tersebut, sekitar delapan hektare di antaranya sudah terisi timbunan sampah.
Bahkan di area yang berada dekat pintu masuk TPA, ketinggian tumpukan sampah saat ini diperkirakan sudah mencapai sekitar 15 meter.
Tingginya timbunan sampah ini membuat pengelola harus mengatur distribusi pembuangan agar tidak hanya menumpuk di satu titik.
Apalagi selama Ramadan, jumlah sampah yang datang setiap hari cenderung lebih banyak dibandingkan periode normal.
Faktor Cuaca Jadi Kendala Pengelolaan
Selain lonjakan volume sampah, pengelolaan di TPA Kopiluhur juga menghadapi tantangan dari faktor cuaca.
Musim hujan yang masih terjadi membuat akses jalan menuju titik pembuangan sampah menjadi licin dan rawan amblas.
Kondisi tersebut membuat kendaraan pengangkut sampah kesulitan menjangkau area pembuangan yang berada lebih jauh di dalam kawasan TPA.
Akibatnya, sebagian sampah terpaksa dibuang di area yang lebih dekat dengan pintu masuk. Hal ini menyebabkan tumpukan sampah di bagian depan terlihat semakin tinggi.
Pengelola Buka Jalur Pembuangan Baru