Ia menilai klausul tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia, karena tidak semua negara mitra dagang Amerika Serikat mendapatkan fleksibilitas serupa dalam perjanjian perdagangan.
BACA JUGA:Liverpool Gigit Jari? Transfer Alessandro Bastoni Terancam Gagal, Inter Milan Ambil Sikap Tegas
Di sisi lain, pemerintah juga melihat adanya potensi keuntungan besar dari kesepakatan ini.
Sebanyak 1.819 komoditas unggulan Indonesia, termasuk produk strategis seperti kopi dan minyak sawit, memperoleh fasilitas tarif nol persen.
Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, khususnya di Amerika Serikat.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap akan bersikap rasional dalam menyikapi dinamika perdagangan global.
Ia tidak menutup kemungkinan untuk melakukan evaluasi terhadap perjanjian tersebut, terutama jika terdapat perubahan kondisi yang berdampak pada kepentingan nasional.
Menanggapi langkah sejumlah negara lain seperti Malaysia yang memilih membatalkan kesepakatan serupa, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki pendekatan berbeda.
Pemerintah akan fokus pada keuntungan nyata yang bisa diperoleh, bukan sekadar mengikuti langkah negara lain.
“Kita akan selalu memilih kebijakan yang memberikan manfaat terbesar bagi bangsa,” ujarnya.