Upaya untuk mengajak angkutan lokal masuk ke terminal sebenarnya sudah dilakukan. Namun, banyak pengemudi angkot dan elf enggan masuk karena alasan teknis.
Di dalam terminal, setiap kendaraan wajib melalui pemeriksaan kelayakan atau ramp check.
Banyak kendaraan yang tidak memenuhi standar, baik dari sisi dokumen maupun kondisi teknis.
Akibatnya, pengemudi memilih tetap beroperasi di luar terminal agar terhindar dari sanksi.
Hal ini menjadi salah satu penyebab sulitnya menertibkan operasional angkutan di dalam terminal.
Calo Marak, Penumpang Jadi Korban
Minimnya pengawasan di luar terminal juga membuka peluang bagi praktik percaloan. Para calo bebas beroperasi di sekitar jalan bypass.
Mereka kerap memberikan informasi yang menyesatkan kepada calon penumpang.
Tidak jarang penumpang diberi tahu bahwa terminal sepi atau tidak ada bus, sehingga diarahkan naik dari pinggir jalan.
Banyak penumpang baru menyadari setelah mengalami masalah. Padahal, di dalam terminal tersedia fasilitas lengkap dan bus yang siap melayani perjalanan.
Dampak pada UMKM dan Pengembangan Terminal
Kondisi ini berdampak luas, termasuk pada sektor ekonomi. Pengelola terminal sebenarnya ingin mengembangkan UMKM di dalam area terminal.
Namun, sepinya penumpang membuat pelaku usaha enggan membuka usaha. Tanpa arus penumpang yang stabil, potensi ekonomi sulit berkembang.
Terminal yang seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi justru kehilangan fungsi tersebut akibat kebocoran penumpang di luar area.
Persaingan Tidak Sehat Antar Bus
Situasi ini juga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Operator bus yang patuh masuk terminal harus bersaing dengan bus yang ngetem di luar.