RADARCIREBON.COM – Polemik pembongkaran jembatan rel kereta api bersejarah di kawasan Kalibaru, Kota Cirebon, terus jadi perbincangan.
Dari sisi teknis hidrologi, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWSCC) menilai keberadaan jembatan peninggalan tahun 1910 itu memang berdampak pada aliran sungai.
Namun demikian, pembongkaran total bukan satu-satunya solusi yang harus diambil.
Kepala BBWSCC, Dwi Agus Kuncoro, menyampaikan bahwa pendekatan teknis yang lebih bijak dapat dilakukan tanpa mengorbankan nilai sejarah.
BACA JUGA:Aldi Satya Mahendra Inginkan Assen Jadi Arena Comeback Bersinar Lagi
BACA JUGA:Rekomendasi 7 HP Realme 5G Terbaik 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan Spek Gahar
Ia menegaskan, struktur jembatan masih bisa dipertahankan dengan cara meninggikan posisinya agar sejajar dengan jembatan jalan raya di dekatnya.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada posisi jembatan yang terlalu rendah sehingga sering menjadi titik tersangkutnya sampah saat debit air meningkat.
Kondisi ini berpotensi menghambat aliran sungai, terutama saat musim hujan atau banjir.
“Secara teknis memang mengganggu aliran, terutama saat air tinggi. Tapi solusinya bukan harus dibongkar. Rel Kalibaru bisa dirangkai ulang, dinaikkan, sehingga tetap berfungsi sebagai bagian dari sejarah,” jelas Dwi.
BACA JUGA:Lebih dari Sekadar Touring, Yamaha Siap Pamerkan Keindahan Indonesia Lewat MAXI Tour Boemi Nusantara
Ia menambahkan, opsi tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan jembatan sebagai objek wisata sejarah.
Keberadaan rel tua itu bahkan dinilai bisa dikembangkan menjadi spot wisata malam dengan sentuhan estetika, seperti pencahayaan dekoratif.
Solusi Tengah yang Menguntungkan Semua Pihak
Pendekatan ini dinilai sebagai solusi win-win. Di satu sisi, fungsi sungai tetap optimal tanpa hambatan. Di sisi lain, nilai historis jembatan tidak hilang begitu saja.