Mengapa Lahirnya Pancasila pada 1 Juni, Bukan 22 Juni atau 18 Agustus?

Senin 01-06-2026,18:17 WIB
Reporter : Asep Kurnia
Editor : Yuda Sanjaya

6. Bukan Hasil Konsesus Akademis 

Penetapan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila, bukan hasil konsensus akademis. Bahkan sejumlah sejarawan keberatan.

BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Strategi Besar Pemerintahan untuk Indonesia Maju, Mandiri, dan Sejahtera

Mengapa keberadaan? Karena BPUPKI sendiri tidak menetapkan 1 Juni sebagai hari bersejarah khusus, sidang tetap berjalan, tidak ada pengesahan apapun.

Pidato Soekarno 1 Juni bukan satu-satunya pidato tentang dasar negara di BPUPKI. Yamin pada 29 Mei 1945 dan Soepomo 31 Mei 1946 juga berpidato soal dasar negara, lebih dulu.

Istilah "Pancasila" sendiri belum tentu murni ide Soekarno. Bahkan ada yang berargumen jika Sang Proklamator ini mengadopsi istilah dari tradisi Buddhist atau Sanskrit yang sudah ada.

7. Mengapa Tetap Dipilih 1 Juni?

BACA JUGA:Peringatan Hari Lahir Pancasila, ASN Indramayu Diajak Jadi Teladan Pengamalan Nilai Kebangsaan

Menurut Faizal, jawabannya lebih politis dari pada alasan akademis. Pertama, 1 Juni punya tokoh yang jelas yaitu Soekarno. Narasi lebih mudah dijual ke publik.

“Bung Karno lahirkan Pancasila lebih simpel dari Panitia Sembilan kompromi selama berminggu-minggu."

Kedua, Jokowi secara politik dekat dengan warisan Soekarno dan PDI-P, partai yang paling konsisten mengkampanyekan 1 Juni sejak lama. Penetapan ini memang punya narasi politik Soekarnois.

Ketiga, 18 Agustus terlalu dekat dengan 17 Agustus dan sudah penuh secara simbolis. Sementara pada 22 Juni terlalu kontroversial karena berkaitan dengan Piagam Jakarta yang sensitif soal relasi Islam-negara.

BACA JUGA:Libur Panjang, Polsek Pasekan Intensifkan Patroli KRYD untuk Antisipasi Gangguan Kamtibmas

Maka 1 Juni adalah pilihan yang paling aman sekaligus paling menguntungkan secara narasi bagi kelompok Nasionalis.

Kategori :