Namun berbeda dengan cerita Dinda. “Waktu jadi koordinator lapangan acara kampus, saya pegang 15 volunteer dan budget terbatas."
"Saya bikin sistem checklist harian biar semua tugas kelar sebelum deadline. Acara selesai tanpa satupun jadwal yang molor,” ujar Dinda seperti ditulis Sheila.
Ditegaskannya, itu jawaban yang sama sekali berbeda strukturnya. Bukan klaim kosong. Misalnya kata-kata: "saya orangnya rapi dan terorganisir." Tapi Dinda bercerita nyata, ada situasinya, ada tindakannya, ada hasilnya.
Ternyata Sheila baru sadar, jika Dinda ketika menjawab pertanyaannya tersebut menggunakan Metode STAR.
Metode ini jarang dipakai oleh para kandidat karyawan dalam menjalani tes wawancara.
Lalu, apa yang dimaksud dengan Metode STAR? Sheila menjelaskan, STAR itu singkatan dari Situation, Task, Action, and Result.
“Situation, cerita dimulai dari mana. Task, tanggung jawab apa yang dipegang. Action, keputusan apa yang diambil. Result, apa yang berubah setelah bertindak,” jelasnya.
Kandidat yang menggunakan metode ini, lanjutnya, tampak seperti orang yang paham dengan kerjanya sendiri. Padahal ketika ditanya IPK-nya, Dinda menjawab dengan kata “cuma" 2.98.
Sementara kandidat lain menjawab “Maaf ya IPK saya emang gak tinggi”. Dinda menjawab agak lain.
“IPK saya emang pas-pasan, karena banyak waktu kuliah saya habis buat proyek lapangan."
"Tapi dari situ saya belajar koordinasi yang gak ada di silabus." Satu kalimat itu mengubah kesan Sheila terhadap Dinda .
Setelah interview itu, Sheila berpikir, kandidat yang paling sering gagal tes wawancara bukan karena kurang kompeten. Tapi tidak tahu cara mem-framing pengalaman mereka sendiri.
“Gue sampe rekomendasiin ke tim HRD yunior gue kumpulan pertanyaan interview lengkap yang pakai struktur STAR ini buat bahan belajar kandidat,” tegasnya.
Ditambahkan, yang membuat HRD kaget itu bukan jawaban yang jelek. Tapi jawaban yang tak memberikan informasi baru.
“CV udah kami scan sebelum kandidat duduk. Nama, kampus, pengalaman, semua udah kami tahu."