Saya juga tidak mau jadi orang munafik. Dan teman-teman terdekat saya juga tahu, saya bukan orang yang suka “main aman.” Karena itu, saya tidak pernah menyangkal kalau saya, dan keluarga saya, memang dekat dengan Pak Machfud Arifin. Beliau adalah sahabat keluarga kami, khususnya dekat dengan abah saya. Dan kami senang beliau maju menjadi calon wali kota Surabaya berikutnya.
Adalah hak pribadi saya, dan keluarga kami, untuk menentukan pilihan. Seperti hak pribadi pembaca semua untuk memberikan dukungan. Kita semua harus dewasa dengan itu. Sama seperti hak pribadi saya mendukung Pak Bambang DH sekitar 15 tahun lalu, dan hak pribadi saya mendukung Bu Risma sepuluh tahun lalu.
Saya percaya pilihan saya dulu benar, dan saya yakin pilihan saya untuk masa depan Surabaya juga tepat. Karena saya selalu diajarkan untuk selalu berusaha memikirkan secara holistik, bukan sekadar emosional.
Surabaya butuh melangkah ke “Next Level.” Orang yang bisa total memikirkan kota, yang matang dan dewasa, yang punya selera tinggi, dan yang sudah “selesai” dengan kebutuhan diri sendiri. Kira-kira seperti abah saya sendiri lah, yang sudah tidak butuh apa-apa lagi selain membagikan pengalaman hidupnya untuk orang banyak.
Surabaya butuh orang yang bisa bekerja sama dengan orang banyak, dengan semua kalangan, karena tidak ada yang bisa maju sendirian. Saya sering berdiskusi dengan Pak Machfud dan timnya, tentang kebutuhan kota ini, dan beliau menegaskan bagaimana kota ini tidak bisa maju hanya dengan wali kota dan wakil wali kota saja.
Bagaimana seorang wali kota harus punya “helicopter view.” Seorang wali kota tidak mungkin turun sendirian, dan harus melibatkan dan menggunakan banyak orang untuk memajukan kota bersama. Membentuk super team, berisikan orang-orang yang memang punya visi masa depan.
Surabaya tidak boleh krisis tokoh seperti sekarang. Surabaya harus mengorbitkan banyak tokoh di masa depan. Bila sebuah kota ingin maju dan bersaing secara global, pembinaan manusianya sangat krusial.
Tentu beliau meminta saya masuk ke dalam tim tersebut. Sekali lagi saya tentu berterima kasih dan bersyukur dianggap punya visi masa depan.